Yulia Herlina : Bismillah Saya Siap Berkompetisi Pilkades Bayu Demi Perubahan.

Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Hitungan bulan Pemilihan Kepala Desa serentak di 51 Desa di Kabupaten Banyuwangi akan digelar. Kabarnya BPD di 51 Desa se Kabupaten Banyuwangi tanggal 16 s/d 18 Mei 2023 melakukan penjaringan untuk pembentukan Panitia Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Desa masing-masing.

Dari sebanyak 51 Desa yang akan gelar Pilkades pada 25 Oktober 2023 akan datang, salah satunya adalah Desa Bayu Kecamatan Songgon. Di Kecamatan Songgon sendiri yang dipastikan ada 3 Desa yang akan gelar Pilkades selain Desa Bayu yaitu Desa Sragi dan Desa Sumberarum. Seperti yang pernah diberitakan sebelumnya, BPD Sragi juga sudah lakukan penjaringan Panitia Kepala Desa melalui seleksi.

Awak media sedikit tertarik dengan beredarnya kabar Bacalon Kades dari 3 Desa di wilayah Kecamatan Songgon, ada satu Desa yang Bacalon Kadesnya perempuan yaitu Desa Bayu. Menurut sejarah Babat Blambangan di Desa Bayu pernah berkobar perang besar dengan sebutan “Perang Puputan Bayu”. Yang mana ada satu nama pejuang perempuan yang melegenda dan jadi cerita rakyat selain “Ki Rempeg Jaga Pati” yaitu bersebutan nama “Sayu Wiwit”.

Bakal Calon Kades Perempuan di Desa Bayu diketahui bernama Ir. Yulia Herlina akrab dengan nama panggilan keseharian Lilik di lingkungannya. Yulia Herlina alias Lilik ternyata putri tercinta mantan Kepala Desa Bayu bernama Matno Hadi (Pak Matno). Apakah kemunculan Bakal Calon Kades Perempuan di Desa Bayu, bagian dari menauladani semangat juang sosok perempuan bernama Sayu Wiwit di masa Perang Puputan Bayu…? Jawabannya bisa iya bisa tidak, karena jamannya sudah sangat jauh berbeda antara masa penjajahan dengan jaman sekarang.

Melalui media yang sama sebelumnya ada pemberitaan berjudul “Benarkah Di Desa Bayu Muncul Bakal Calon Kades Perempuan..?” edisi (25/3/2023). Untuk memastikan kebenarannya, inilah hasil wawancara awak media kepada Ir. Yulia Herlina alias Lilik Bakal Calon Kades Bayu Rabu 17/5/2023 saat ditemui di kediamannya.

“Yang pertama saya ucapkan Bismiillaahi Rohmaani Rohiim sudah siap maju ikut kompetisi Pemilihan Kepala Desa Bayu. Semoga niatan baik saya ini mendapatkan ridlo dari Allah Swt dan mendapatkan dukungan dari masyarakat. Hari ini maaf saya tidak menyampaikan hal-hal yang berbau kampanye atau ajakan kepada masyarakat. Setelah saya dapat restu dari orang tua Saya, maka tidak salah kalau saya juga mohon doa restu dari seluruh masyarakat Desa Bayu yang saya cintai dan saya banggakan”, ungkap Lilik dengan tenangnya.

Sebagai bakal calon pemimpin setidaknya ada sesuatu yang diketahuinya minimal tentang sejarah yang pernah terjadi di wilayah yang akan dipimpinannya. Oleh sebab itu awak media goda Lilik (Yulia Herlina) dengan pertanyakan masih ingatkah sejarah perang “Puputan Bayu” juga tentang kegigihan seorang tokoh pejuang perempuan bernama “Sayu Wiwit…?”.

“Kalau ditanya apakah saya masih ingat, jawabannya tidak ingat karena saya bukan bagian dari pelaku sejarah masa itu. Tapi kalau ditanya apakah saya mengerti cerita sejarah kiprah Sayu Wiwit dalam perang Puputan Bayu..? saya jawab iya, karena pernah mendengar dan membaca beberapa sumber tentang kerajaaan Blambangan dan lahirnya Banyuwangi. Menurut sejarah beliau meski perempuan adalah orang yang tangguh dan gagah berani dalam pertempuran melawan VOC. Sebagai sesama kaum perempuan, saya sangat mengagumi dan bangga ada sosok perempuan seperti Sayu Wiwit. Perjuangannya menjadi bagian dari cerita cikal bakal berdirinya Banyuwangi. Artinya sejak dulu sebenarnya peran perempuan sudah sejajar dengan kaum pria, contohnya adalah Sayu Wiwit. Oleh karena itu saya tidak setuju bila ada pihak-pihak yang mempersoalkan gender, memandang kaum perempuan sebelah mata apalagi merendahkannya”, papar Yulia Herlina alias Lilik itu.

Menyambung keterangan sebelumnya Yulia Herlina alisa Lilik mengatakan, “Sebaliknya sehebat apapun kaum perempuan juga tidak boleh merendahkan kaum pria. Yang ingin saya tegaskan adalah, kita tidak mungkin ada di muka bumi ini tanpa kedua-duanya yaitu bapak dan ibu kandung kita. Merendahkan kaum pria atau merendahkan kaum perempuan, artinya sama saja dengan merendahkan kedua orang tua kandung kita”, tegas Lilik.

Ketika ditanya sejauh mana optimisme kemenangannya dalam Pilkades nanti, Lilik seolah tanpa beban memberikan jawabannya.

“Kalah dan menang adalah konsekwensi dari sebuah kompetisi, semua pasti ingin menang. Kalau gagal atau kalah itu memang resiko dari sebuah perjuangan yang harus diterima. Yang penting saya punya niatan baik dan dapat restu orang tua untuk Desa Bayu dan saya ikhtiari niatan baik saya ini, selebihnya saya serahkan pada masyarakat Bayu dan tentu finalnya ada pada kuasa dan kehendak Allah Swt.”, pungkasnya.(r35).

Pos terkait