Kabaroposisi.net | Jombang – Warga Dusun Butuh Desa Pandanwangi Kecamatan Diwek resah atas dampak bau limbah cair pabrik plastik rafia yang sangat menyengat dan dibuang pada saluran sungai mati, dikarenakan diduga Instalasi Pengelolaan Air Limbah ( IPAL ) tidak memenuhi standar serta cerobong pabrik yang tidak memungkinkan dalam spek ketinggian sehingga pencemaran polusi asap yang berdampak pada masyarakat warga sekitar pabrik.
Kepala DLH Kabupaten Jombang Miftakhul Ulum saat di konfirmasi melalui seluler Senin (10/7) terkait surat pengaduan Diduga instalasi IPAL yang tidak memenuhi standar dan Ketinggian cerobong pabrik plastik/rafia yang di layangkan pada DLH Jombang tertanggal 19/6 sampai saat ini belum ada hasil dan pihaknya mengatakan” inggih nanti, masih ada rapat lanjutan mas,”terangnya
Ketua LSM Kompak Lutfi Utomo mengungkap, sangat menyayangkan adanya pabrik tali rafia yang ada di Desa Pandanwangi, karena kita lihat dari juknis pertanian, disitu adalah kawasan hijau, maka dengan adanya pabrik tersebut limbah itu dibuang ke mana, melihat pengalaman sebelumnya kebanyakan limbah pabrik di Jombang itu dibuang di sungai, bila seperti itu maka sungai di pandanwangi itu buat pengairan pertanian.
“Sebagai kontrol sosial dan aktivis pemerhati lingkungan, saya menyayangkan kinerja dari Dinas Lingkungan Hidup(DLH), kajian terkait pengolahan limbah dipabrik tersebut seperti apa, kok sampai ada temuan limbah cair ber aroma tidak sedap dan berwarna keruh seperti itu keluar dari pipa pembuangan pabrik dan mengarah ke sungai “, pungkasnya.
Salah satu warga mengatakan bau limbah pabrik sangat menyengat, seperti bau tai kucing, apalagi kalau ada limbah di masukan dalam karung yang bertumpukan di belakang pagar halaman pabrik, itu tambah parah baunya, sampai saya gak berani buka pintu rumah.
“Soal cerobong asap juga saya sarankan supaya di naikan soalnya terlalu pendek dan asapnya polusinya ke perkampungan warga sangat berdampak pada anak kecil di sekitar”, tuturnya.
Saya pribadi sebagai warga yang deket dengan pabrik tiap tahun cuma mendapat bantuan kompensasi dari pabrik tersebut berupa beras 5kg dan minyak 1 liter sekali dalam setahun, untuk uang 3 juta di bawah oleh kasun itu pun saya tidak tahu di peruntukkan ungkapnya.
Dampak bau yang menyengat seperti tai kucing kita rasakan hampir tiap hari, dan beberapa sumur sudah banyak yang tercemar limbah tersebut jadi air sumur baunya ikut tak sedap,pungkasnya(sap)
