Assasment Dan Penjaringan Calon Siswa Sekolah Rakyat, Petugas PKH Temukan 2 Anak Yatim Bertahan Hidup Tanpa Dampingan

Oplus_131072

Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Program Sekolah Rakyat program pendidikan gratis yang dikelola oleh Kementerian Sosial, dikhususkan bagi anak-anak keluarga kurang mampu. Dikutip dari beberapa sumber, program tersebut bertujuan untuk memutus mata rantai kemiskinan juga memberikan ruang bagi masyarakat kurang mampu mendapatkan akses pendidikan berkualitas. Pada program Sekolah Rakyat berasrama (boarding school), semua kebutuhan siswa mulai dari soal makan, seragam, dan tempat tinggal ditanggung negara.

Di Kabupaten Banyuwangi assasment dan penjaringan calon siswa Sekolah Rakyat sudah berjalan oleh Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Salah satunya dilakukan oleh Dedy Utomo Koordinator Pendamping PKH dan rekan-rekannya di wilayah Kecamatan Singojuruh. Pantauan awak media dalam beberapa hari terakhir, Dedy Utomo dkk getol sekali sosialisasi, assasment sekaligus lakukan penjaringan calon siswa Sekolah Rakyat.

Bacaan Lainnya

Dalam perjalanannya melakukan assasment dan penjaringan calon siswa Sekolah Rakyat, Dedy mengaku menemukan sebuah kondisi calon siswa yang sangat memperihatinkan dan di luar dugaan. Tepatnya mereka adalah dua orang anak Yatim laki-laki kakak adik yang bertahan hidup tanpa dampingan orang tua/keluarga. Kedua anak Yatim tersebut berinisial “CBW” masih se usia anak dibangku SMP, dan “NAW” se usia anak di bangku SD.

Yang tertua “CBW” masih berstatus sebagai siswa di salah satu SMPN di Kecamatan Singojuruh dan adiknya “NAW” berstatus sebagai siswa di SDN di Kecamatan Singojuruh. Informasi terkait kondisi kedua anak Yatim tersebut diakui oleh Dedy diperoleh dari salah satu Guru Wali Kelas SDN yang turut prihatin. Selanjutnya berdasrkan infromasi tersebut Dedy selaku petugas PKH melakukan kunjungan ke tempat ke dua anak tersebut tinggal.

Diceritakan okeh Dedy hasil assasmentnya, bahwa kedua anak Yatim tersebut (CBW dan NAW) tinggal berdua saja di sebuah rumah yang dikontrakkan oleh ibunya. Sementara ibu dari ke dua anak tersebut merantau ke Bali, sehingga dalam kesehariannya ke dua anak tersebut masak-masak sendiri, nyuci-nyuci baju sendiri seperti dalam lagu dangdut berjudul yang dipopulerkan oleh Chaca Handika di eranya. “CBW” yang sebenarnya masih berstatus sebagai siswa di SMPN tertentu, tidak lagi bisa masuk sekolah karena tidak ada fasilitas untuk menuju ke sekolah. Selain itu “CBW” harus memasak dan urus “NAW” adiknya yang masih sekolah.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari ke dua anak tersebut sebagaimana pengakuan mereka kadang dikirimi oleh ibunya kadang juga oleh ayah sambungnya yang tidak serumah dengan anak-anak tersebut. Mengetahui kondisi ke dua anak yang memperihatinkan tanggung beban hidup sebagai anak Yatim dan tanpa dampingan orang tua/keluarga. Selanjutnya Dedy selaku petugas PKH Kecamatan Singojuruh, menawarkan untuk ditampung di Asrama Sekolah Rakyat (SR) yang di rintis oleh Kemensos dan Pemda Banyuwangi.

Hal tersebut dilakukan oleh Dedy selaku petugas PKH karena kebetulan memang ada program dari Kemensos yaitu Sekolah Rakyat gratis dan berasrama. Berikut agar pendidikan anak tersebut bisa berlanjut dan mendapatkan perlindungan dari Pemerintah. Untuk proses selanjutnya Dedy selaku pendamping PKH berkoordinasi dengan Camat Singojuruh dan Dinas Sosial PPKB Banyuwangi untuk melaksanakan pendampingan. Selain itu kata Dedy berkoordinasi dengan ibu dari ke dua anak tersebut, dan hasilnya ibu dari ke dua anak tersebut menyetujui atas upaya yang dilakukan oleh Dedy Utomo selaku petugas PKH. (r35).

Pos terkait