Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Di SMA Negeri Darussholah Desa Singojuruh Kabupaten Banyuwangi Kamis 9 April 2026, berlangsung acara pelepasan siswa-siswi kelas XII angkatan ke -23. Acara yang semula direncanakan akan berjalan khidmat dan sedikit diwarnai keceriaan. Di luar dugaan mendadak berubah jadi suasana duka yang sangat mendalam.
Sebagaimana informasi yang tertangkap awak media, hal itu terjadi dikarenakan ada insiden di awal acara tepatnya pada saat dikumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ketua Komite SMAN Darussholah Sapto Mudito, tiba-tiba terkulai lemas dan terhuyung, sehingga harus ditangkap oleh beberapa orang disampingnya agar tidak jatuh ke lantai.
Menurut salah satu saksi yang kebetulan turut hadir di acara Pelepasan siswa-siswi kelas XII SMAN Darussholah Singojuruh. Diketahui kondisi sebelumnya nyaman-nyaman saja, ngobrolnya juga santai tidak ada tanda-tanda apapun. Pasalnya kondisi sebelum kejadian almarhum Sapto Mudito dalam keadaan baik-baik saja.
Mendengar kabar meninggalnya Sapto Mudito yang secara tiba-tiba itu, masyarakat Desa Gumirih tumpah ruah berbelasungkawa ke rumah duka. Karena memang Sapto Mudito seorang pensiunan guru, maka tak heran bila banyak bapak/ibu guru berdatangan turut berduka atas kepergiannya memenuhi panggilan Allah Swt.
Diketahui almarhum Sapto Mudito (Pensiunan Guru) juga selaku Ketua BPD Gumirih. Sebagaimana disampaikan oleh Mura’i Ahmad, SE., SH., MH (Kepala Desa Gumirih), Sapto Mudito adalah sosok tokoh yang baik, penyabar, santun, dan berkontribusi dalam pembangunan di Desa Gumirih. Selain itu kata Mura’i Ahmad almarhum aktif terlibat dalam kegiatan pemerintahan juga kemasyarakatan.
“Saya atas nama masyarakat juga pemerintah desa menyampaikan duka yang mendalam, kami merasa kehilangan beliau. Beliau orang baik, penyabar, santun dan berkontribusi dalam pembangunan di Desa Gumirih. Insyaallah beliau dipanggil Allah Swt dalam keadaan husnul khotimah. Semoga Allah ampuni dosa-dosanya, diterima semua amalnya, dan mendapatkan tempat yang baik dan muliya disisi-Nya (Allah)”, tuturnya berduka.
Tentu kabar meninggalnya Sapto Mudito membuat rekan-rekan sesama Alumni SPGN Pandan, merasa sangat kehilangan. Karena sosok dirindukan kehadirannya di acara reuni yang sudah direncanakan dengan matang tidak hadir bahkan berpisah untuk selamanya. Sementara selama ini almarhum sebagaimana disampaikan oleh salah satu rekan seangkatannya. Menjadi penggerak moral menjaga dan memperkuat tali silaturrahmi Alumni SPG Pandan angkatan 77. (r35).
