Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI –Adat ritual Kebo-Keboan Alasmalang Kecamatan Singojuruh sudah digelar pada hari Minggu 28 Juni 2026 (10 Muharam 1448 H). Seperti biasa setiap adat Kebo-Keboan Alasmalang, animo masyarakat untuk datang menyaksikan luar biasa. Bahkan ada terlihat kehadiran beberapa wisatawan asing datang tertarik untuk menyaksikan ritual adat Kebo-Keboan Alasmalang itu.
Informasinya, pada moment adat ritual Kebo-Keboan tersebut Camat Singojuruh berinisiatif menyediakan fasilitas layanan cek kesehatan gratis. Dan layanan pengurusan administrasi kependudukan berupa pembuatan KTP kepada pengunjung yang membutuhkannya.
Setiba di lokasi acara, Bupati Banyuwangi santuni anak yatim diikuti oleh H. Hartono (Kadispar Banyuwangi). Setelah kumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebagai penghormatan atas kehadiran Bupati dan para tamu undangan di acara tersebut, dipertontonkan tari “Dewi Sri” memberkahi petani agar hasil panennya melimpah.
Kades H. Abdul Munir katakan bahwa adat ritual Kebo-Keboan merupakan aset budaya yang andil serta mengharumkan Kabupaten Banyuwangi baik di tingkat nasional bahkan dunia. Artinya kata H. Abdul Munir, selain lewat kegiatan-kegiatan lain, warga Alasmalang berkontribusi dalam pembangunan Banyuwangi melalui budaya adat ritual Kebo-Keboan.
Oleh karenanya melalui kesempatan itu, selaku Kepala Desa H. Abdul Munir mohon kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi agar ke depan ada suport anggaran yang maksimal untuk kegiatan adat ritual Kebo-Keboan di desanya. Akhiri sambutannya H. Abdul Munir membacakan pantun yang membuat hadirin sontak tepuk tangan karena senang mendengarnya. Inilah pantun berbahasa Banyuwangian yang disampaikan oleh Kades Alasmalang H. Abdul Munir.
“Nang Kebonan Golek Alang-Alang, Lali Sarapan Sangune Selepi. Adat Kebo-Keboan Alasmalang, Dadi Jalaran Arume Banyuwangi”
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas sebelum membuka kegiatan adat ritual Kebo-Keboan, berkenan memberikan sambutan. Terkutip beberapa penggalan kalimat dalam sambutannya kurang lebihnya mengatakan.
“Hari ini sesungguhnya bukan sekedar perayaaan tradisi, melainkan ini adalah perayaan identitas. Perayaan atas ingatan kolektif sebuah masyarakat yang memilih untuk tetap mengenali karakter budaya daerahnya yang terus berkembang”.
Sekilas Bupati menjelaskan filosofi yang ada di balik ritual adat warga Alasmalang yang menggunakan nama Kebo-Keboan. Paparnya, bahwa di balik sosok Kebo (Kerbau) tersimpan filosofi yang sangat mendalam. Kebo (Kerbau) bukan hanya simbol pertanian. Kebo (Kerbau) adalah lambang ketekunan, kesabaran, kekuatan, dan harmonis antara manusia dengan alam.
Lebih lanjut dalam sambutannya Bupati Banyuwangi sampaikan bahwa manusia tidak bisa hidup melawan alam, manusia hanya bisa hidup bersama alam. Ketika dunia menghadapi krisis iklim kerusakan lingkungan, ancaman ketahanan pangan dan hilangnya identitas budaya akibat globalisasi. Disebutnya masyarakat Alasmalang sesungguhnya telah mewariskan sebuah jawaban sejak ratusan tahun yang lalu.
“Teknologi dapat dibeli, infrastruktur dapat membangun, tetapi karakter tidak bisa diimpor, karakter hanya bisa diwariskan. Maka budaya adalah sekolah karakter yang paling kuat dan paling efektif. Dari tradisi Kebo-Keboan kita belajar disiplin, gotong royong, kerja keras, penghormatan terhadap alam meningkatkan sosial dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan bangsa”,
Selanjutnya Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berkenan membuka acara adat ritual Kebo-Keboan ditandai dengan pemukulan gong tiga kali, dibarengi pelepasan balon. Kemudian ritual dimulai dengan melakukan doa bersama dipandu oleh tokoh adat Alasmalang yang tak asing lagi yaitu Mbah Ribut. Usai doa bersama, kirab ider bumi ke empat penjuru kampung dilepas. Dan ider bumi itulah rangkaian kegiatan adat Kebo-Keboan Alasmalang yang paling ditunggu-tunggu. (r35).
