KABAROPOSISI.NET|Blora – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran strategis santri dalam pembangunan bangsa. Ketua Yayasan Pendidikan YPSKA Ngadipurwo Blora, Muhammad Ahmad Faishol, M.Sc., atau yang akrab disapa Gus Faishol, menegaskan bahwa santri tidak hanya dibentuk menjadi pribadi yang religius, tetapi juga dipersiapkan sebagai agen perubahan yang mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat dan daerah.
Menurutnya, pesantren sejak awal mendidik santri dengan prinsip ilmu amaliah dan amal ilmiah, yakni ilmu yang diamalkan dengan penuh keikhlasan. Karena itu, seorang santri diajarkan agar tidak menjadikan dakwah maupun kegiatan mengajar sebagai sarana mencari keuntungan pribadi. Nilai keikhlasan, kata dia, menjadi fondasi utama agar ilmu yang disampaikan benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat.
Selain itu, Gus Faishol menilai santri memiliki potensi besar menjadi motor penggerak perubahan sosial. Namun, untuk menjalankan peran tersebut, santri juga perlu memiliki kemandirian ekonomi sehingga dapat menjalankan dakwah dan pengabdian kepada masyarakat tanpa bergantung kepada pihak lain. Dakwah yang menyentuh hati masyarakat, menurutnya, lahir dari keteladanan dan pengabdian yang tulus.
Ia mengakui tantangan terbesar santri saat ini adalah proses adaptasi dengan kehidupan sosial di tengah masyarakat. Selama menempuh pendidikan, santri hidup dalam subkultur pesantren yang memiliki tata nilai dan lingkungan tersendiri. Karena itu, setelah kembali ke masyarakat, mereka dituntut mampu memahami dinamika sosial tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan di pesantren.
Dalam menghadapi perkembangan zaman, Gus Faishol menegaskan pesantren tetap berpegang pada kaidah Al-Muhafazhah ‘ala al-Qadim as-Shalih wal Akhdzu bil Jadid al-Ashlah, yakni menjaga tradisi lama yang masih baik serta mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Prinsip tersebut menjadi bekal agar santri mampu mengikuti perubahan tanpa kehilangan jati diri dan nilai keislaman.
Ia juga optimistis pesantren siap menjawab berbagai tantangan masa depan.
Menurutnya, pendidikan pesantren tidak hanya menanamkan semangat nasionalisme dan nilai tauhid yang diwariskan melalui spirit Resolusi Jihad, tetapi juga membentuk karakter generasi muda yang tangguh menghadapi ketidakpastian (uncertainty tolerance). Di sisi lain, berbagai keterampilan praktis seperti pertanian, ukir, hingga pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) menjadi bekal santri untuk mandiri secara ekonomi.
Lebih lanjut, Gus Faishol mengingatkan bahwa mencari nafkah merupakan kewajiban yang dilakukan melalui pekerjaan, bukan menjadikan dakwah dan pengajaran sebagai orientasi memperoleh penghasilan. Ia mendorong para santri untuk memiliki keberanian tampil di berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia politik, pemerintahan, ekonomi, maupun sosial kemasyarakatan, agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dengan tetap berpegang pada prinsip moderasi atau tawasuth.
Menutup pesannya dalam rangka Hari Santri Nasional 2026, Gus Faishol berharap seluruh santri mampu bersatu membangun bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, pesantren merupakan akar peradaban Indonesia yang memadukan nilai Islam, budaya Nusantara, dan nasionalisme. Karena itu, ia mengajak seluruh santri untuk terus menjaga persatuan, mendukung pembangunan bangsa, serta menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan berbangsa tanpa tercerabut dari budaya dan jati diri Indonesia. (GaS)
