Keriwul : Ada Yang Keliru Bila Rowo Bayu Tidak Bisa Jadi Destinasi Wisata Idola Pengunjung

Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI –Siapa yang tidak kenali nama Bambang Suhendi seorang aktivis sosial yang tinggal di Dusun Pakis Desa Songgon Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi. Kiprahnya kerap kali mengundang kontrofersi karena tak bisa dikompromi bila sudah menyuarakan kepentingan sosial, masyarakat dan menyoroti kebijakan publik yang menurutnya nabrak aturan.

Tampilan dengan ciri khas rambut gondrong berkeriting menjadi sebab dirinya mendapat julukan Hendik Keriwul. Sehingga bila ada orang luar ingin bertemu dengannya tidak mudah karena banyak orang bersebutan nama Hendik, jadi mudah ditemukan bila sebut nama Hendik Keriwul. Baru-baru ini Hendik Keriwul sumbang gagasan kepada kelompok masyarakat pengelola Rowo Bayu Desa Bayu Kecamatan Songgon. Yakni ingin mengembalikan Rowo Bayu jadi tempat wisata yang ramai pengunjungnya seperti puluham tahun sebelumnya.

Untuk itu pada tanggal 3 sampai 4 Juni 2023 Hendik Keriwul bersama masyarakat pengelola Rowo Bayu adakan kegiatan Bazar Rakyat Kuliner dan aneka produk UMKM setempat. Kata Hendik Keriwul, “Setidaknya kegiatan Bazar Rakyat ini jadi awal semangati warga Desa Bayu untuk kembali menata Rowo Bayu ke depan dikelola seperti apa agar punya daya tarik pengunjung”.

Lebih lanjut Hendik Keriwul menyampaikan beberapa hal penting dan sedikit menyentil para pihak pengambil kebijakan.

“Menurut saya ada yang keliru bila Rowo Bayu tidak bisa jadi destinasi wisata yang diidolakan masyarakat atau pengunjung. Yang keliru bukan pengunjungnya yang tidak mau berwisata ke Rowo Bayu, tapi pemangku kebijakan wilayah setempat yang tidak serius dan tidak ada syahwat untuk membuat Rowo Bayu jadi tempat wisata yang punya data tarik pengunjung. Sepengetahuan saya, wisatawan lokal juga luar kota menyukai tempat wisata tidak hanya karena keindahan alam dan fasilitasnya saja, tapi tempat-tempat yang punya nilai sejarah lebih disukainya juga.

Saya kira Rowo Bayu sudah komplit selain alamnya yang asli dan asri berhiaskan sendang atau rawa yang sumber mata airnya tidak pernah kering, juga ada unsur sejarah yang menarik diketahui.

Ada cerita sejarah sekitar area Rowo Bayu pernah jadi petilasan Prabu Tawangalun di masa kejayaan Kerajaan Blambangan, sampai cerita sejarah terjadinya Perang Puputan Bayu yang diyakini sebagai cikal bakal lahirnya Banyuwangi”, papar si Keriwul.

Tak hanya itu, Keriwul dengan tegas mengatakan bahwa kegiatan memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba), lebih tepat bila digelar besar-besaran di Desa Bayu tiap tahunnya.

Alasannya, nilai kesakralannya ada, karena pemikiran masyarakat akan terbawa keingintahuan jejak rekam petilasan Prabu Tawangalun dan cerita Perang Puputan Bayu, yang secara otomatis akan berimbas pula pada tempat wisata Rowo Bayu. Akhiri penyampaiannya Hendik Keriwul berharap kepada Pemerintah Desa Bayu ke depan juga Pemkab Banyuwangi.

Untuk memberikan perhatian khusus pada tempat wisata Rowo Bayu, dengan harapan berdampak pada pemberdayaan dan pergerakan ekonomi masyarakat Desa Bayu. (r35).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *