Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Masyarakat Desa Alasmalang juga Korsda Pengairan Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi. Pada hari Sabtu 28 Juni 2025. Dibuat ketar-ketir oleh meningkatnya debet air Sungai Badeng di Dam Garit, yang membawa material lumpur.
Kondisi tersebut mengharuskan Korsda Pengairan siaga dengan alat beratnya (Eskavator), jaga-jaga barangkali terjadi penyumbatan pada kolong Jembatan Garit yang berpenyanngga bagian tengahnya. Yang mana bila berguru pada peristiwa banjir bandang pada tahun 2017, kontruksi tempo dulu Jembatan Garit. Bisa dibilang jadi penyebab muntahnya air Sungai Badeng (Dam Garit) ke pemukiman warga.
Yang mana material bawaan air Sungai Badeng berupa limbah pepohonan tersangkut penyangga tengah Jembatan. Ditambah sampah-sampah sehingga Jembatan Garit tak mampu bendung kiriman material bebatuan dan lumpur. Akhirnya bebatuan dan lumpur muntah ke pemukiman warga dengan jumlah yang besar menyebabkan rusaknya rumah-rumah warga.
Tak ayal bila warga Desa Alasmalang setiap terjadi hujan deras apalagi debit air di Sungai Badeng (Dam Garit) meningkat. Harus ekstra waspada, trauma dengan kejadian masa lalu yang betul-betul membuat warga Desa Alasmalang mengalami kerugian materi. Pasca peristiwa mengerikan waktu itu, warga Desa Alasmalang masih merasa khawatir sebelum Jembatan Garit diperbaiki tidak dilakukan renovasi total kontruksinya.
Apa yang menjadi keinginan warga Desa Alasmalang, menarik perhatian salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Singojuruh bernama Rudy Hartono. Pria yang lebih dikenal dengan nama panggilan Rudy 35 itu, angkat bicara meneruskan aspirasi warga Desa Alasmalang yang tak kunjung dapat respon dari Pemerintah.
“Saya kira keinginan warga Alasmalang tidak berlebihan dan sangat beralasan. Ketika kita sepakat bahwa di negeri ini keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Maka jadi pertimbagan keselamatan dan kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama dalam pengambilan kebijakan program. Apalagi konteksnya adalah darurat dan berpotensi mengancam keselamatan masyarakat”, kata Rudy.
Soal Jembatan Garit, Rudy menyampaikan, pada peristiwa banjir bandang beberapa tahun lalu mestinya jadi guru bagaimana hal serupa tidak terjadi. Gebernya, dampak psikologis dari peristiwa banjir bandang itu, masih dirasakan. Warga Desa Alasmalang mengalami trauma, dirundung kekhawatiran setiap kali terjadi hujan deras di wilayah Kecamatan Songgon. Pertanyaannya kata Rudy ,”Sampai kapan warga Alasmalang hidup dalam kekhawatiran itu ?”.
Berikut Rudy menyampaikan pandangannya soal Jembatan Garit, agar segera mendapat penanganan perbaikan. Rudy berpendapat bahwa aspirasi soal perbaikan Jembatan Garit kalau bisa tembus ke Pusat dalam hal ini disebut kepada Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Saya optimis sekali Jembatan Garit ini akan segera dapat penanganan bila suara masyarakat Desa Alasmalang sampai ke pusat dan didengar oleh Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Pak AHY. Sekarang tinggal sejauh mana Kepala Desa, Kecamatan, dan Pemerintah Kabupaten, juga DPRD Banyuwangi mau meneruskan aspirasi warga Desa Alasmalang sampai ke pusat. Ini hanya soal kemauan, kepedulian, dan keberanian untuk menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat”, tegasnya.
Rudy juga singgung soal sedimen dan pendangkalan pada Dam Garit, yang mana menurutnya Korsda Singojuruh juga keluhkan keberadaan sedimen yang menumpuk. Selain itu Dam Garit juga sudah mengalami pendangkalan dan sudah waktunya dilakukan normalisasi besar-besaran. (Ktb ).






