Giling Tebu Terhenti, Nasib Petani Digantungkan ke Pabrik Lain

Kabaroposisi.net | Blora – Ratusan petani tebu di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengeluhkan terhentinya aktivitas penggilingan tebu di PT Gula Manis Manis (GMM). Henti giling ini disebabkan oleh kerusakan pada boiler pabrik. Keluhan ini mendorong DPRD Blora untuk menjembatani pencarian solusi, seperti terlihat dalam pembahasan di Gedung DPRD setempat pada Rabu, 1 Oktober 2025.

Direktur Utama PT GMM Sri Emilia Mudiyanti mengakui bahwa kerusakan boiler menjadi penyebab utama terhentinya operasi penggilingan. Perbaikan diperkirakan memakan waktu 3-4 minggu. Namun, tenggat waktu tersebut dinilai sudah tidak lagi relevan dengan masa panen petani yang tidak dapat ditampung.

Bacaan Lainnya

“Panen di Gelora sebenarnya sudah tidak bisa terserap oleh kami. Dari 16 hektare tebu GMM sudah terserap semua selama 16 hari ini,” jelas perwakilan PT GMM dalam pertemuan tersebut.

Di sisi finansial akumulasi kerugian dan utang menumpuk, PT GMM tercatat mengalami kerugian yang signifikan. Hingga Agustus 2025, kerugian perusahaan telah mencapai Rp134 miliar. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan kerugian tahun sebelumnya yang sebesar Rp 63 miliar.

Sementara itu, beban utang perusahaan kepada BRI masih mencapai sekitar Rp800 miliar. Restrukturisasi utang telah dilakukan dengan jangka waktu pelunasan hingga 15 tahun ke depan, meski dinilai belum sepenuhnya menutupi pokok utang.

Untuk usulan boiler baru tertahan biaya tinggi, Sebagai solusi jangka panjang, manajemen mengungkapkan pernah mengajukan usulan pembangunan boiler baru khusus untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas giling. Namun, usulan ini tertahan karena besarnya investasi yang dibutuhkan.

“Setelah koordinasi dengan pembuat boiler, angkanya kurang lebih Rp200 miliar. Sampai sekarang belum disetujui karena tingginya biaya,” ujar direktur utama PT GMM.

Pendapatan operasional bulanan PT GMM dari semua kegiatan disebut hanya berkisar Rp 3 – Rp3,5 miliar, sehingga tidak cukup untuk membiayai investasi besar tersebut.

Menyadari dampak pada petani, PT GMM mengaku sedang mengupayakan penyerapan hasil panen petani ke Pabrik Gula (PG) lain, seperti PG Tranggil, untuk mencegah gagal panen.

Petani tebu tergabung dalam APTRI lakukan audiensi digedung DPRD Blora terkait berhenti giling tebu oleh PT GMM

“Kami fasilitasi dengan mesin krem dan jembatan timbang agar petani yang masih memanen tebunya bisa dialihkan,” jelasnya.

Selama masa henti giling, aktivitas utama PT GMM adalah memperbaiki boiler dan memfasilitasi logistik pengalihan tebu petani.

Sementara itu, Ketua DPRD Blora Mustofa menyatakan belum membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk menangani kasus ini. Saat ini, fihak DPRD lebih memprioritaskan pencarian win-win solution.

“Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Direktur Bulog Pusat untuk mencari solusi terkait kerusakan ini, termasuk standar harga tebu di masing-masing pabrik agar tidak menimbulkan kecemburuan petani,” pungkas ketua DPRD Blora

Upaya ini diharapkan dapat segera mengakhiri keresahan petani tebu dan menemukan solusi berkelanjutan bagi masa depan industri gula di Blora. (GaS)

Pos terkait