Kabaroposisi.net | Blora – Bulan Bahasa bukan sekadar perayaan simbolik. Di Kabupaten Blora, kegiatan ini menjelma menjadi ruang pembelajaran nilai bagaimana bahasa, budaya, dan etika berpadu membentuk karakter bangsa. Melalui tema “Berbahasa Santun, Berbudaya Cerdas”, Dinas Pendidikan Blora mengajak pelajar menumbuhkan kembali kesadaran bahwa tutur kata bukan hanya alat komunikasi, melainkan cermin dari kepribadian dan kebangsaan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo, melalui Kepala Seksi Pembinaan SMP, Dian Ahmad Kindarto, menegaskan pentingnya literasi dan kesantunan dalam pembentukan karakter siswa. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan memilah, memahami, dan menyampaikan gagasan secara santun adalah bentuk kecerdasan baru. Bahasa yang baik menjadi batas antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab moral. Inilah pondasi kecil dari tata negara yang besar, sebab warga yang santun dalam berbahasa, sejatinya sedang belajar menjadi warga yang beradab dalam bernegara. Wawancara awak media diruangnya 5/11/2025
Program Bulan Bahasa yang diisi dengan lomba bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jawa, hingga drama bertema kearifan lokal seperti Mikul Duhur dan Mendem Jeru, memperlihatkan bahwa pendidikan bahasa sejatinya adalah pendidikan moral. Kesantunan bukan teori, melainkan kebiasaan sehari-hari yang diasah lewat praktik, baik di sekolah, keluarga, maupun lingkungan digital. “Pendidikan bukan hanya tugas sekolah, tapi juga orang tua dan masyarakat,” kata Dian. Sebuah pesan sederhana, namun menjadi penanda bahwa pembentukan karakter membutuhkan gotong royong nilai.
Kepala SMP Negeri 1 Blora, Ainur Rofiq, bahkan mengingatkan tentang pentingnya bahasa Jawa halus yang kini mulai ditinggalkan generasi muda. Sekolahnya menerapkan komunikasi bahasa Jawa setiap Kamis sebagai bentuk pelestarian dan latihan kesantunan. Langkah kecil ini memperlihatkan bahwa pelestarian bahasa daerah bukan nostalgia, tetapi bagian dari menjaga akar budaya di tengah globalisasi.
Di tingkat bangsa, kesantunan berbahasa adalah cermin etika bernegara. Cara masyarakat menyampaikan pendapat, mengkritik, dan berdialog akan menentukan kualitas demokrasi itu sendiri. Bangsa yang terbiasa berbahasa santun akan lebih bijak dalam berdebat, menghargai perbedaan, dan menghindari polarisasi. Karena pada akhirnya, bahasa adalah wajah bangsa dan kesantunan adalah jati diri yang membedakan kita dari sekadar pengguna kata. (GaS)
