Kabaroposisi, Ngawi – Pengisian perangkat Desa Wakah, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, yang dilaksanakan beberapa waktu lalu, masih meninggalkan kekecewaan bagi sejumlah peserta yang tidak lolos. Kekecewaan ini berawal dari kejanggalan yang dirasakan peserta terhadap hasil nilai ujian tertulis, di mana terdapat gap atau jarak yang terlalu jauh antara peraih nilai tertinggi dengan peringkat di bawahnya.
Sejumlah peserta yang merasa hasil ujian janggal mengaku tidak berani menanyakan hal tersebut secara langsung kepada tim penyelenggara yang berwenang. Suasana kecewa dan bingung langsung terasa saat pengumuman.
“Untuk saat pengumuman tidak ada (pertanyaan), mungkin dikarenakan juga teman yang sudah syok dengan hasil dan mempengaruhi mental teman,” kata salah satu peserta yang masih merasa kecewa, ketika diwawancarai pada Rabu (19/11/2025).
Ketidakberanian untuk bertanya secara resmi kemudian berubah menjadi curahan hati antar peserta. Mereka mendiskusikan keanehan nilai tersebut di sela-sela waktu istirahat.
“Pada saat istirahat setelah koreksi tes tulis, kami peserta ada yang berkumpul dan curhat satu sama lain tentang hasil tes tulis,” ujar peserta tersebut.
Kekecewaan tidak berhenti di lokasi ujian, tetapi berlanjut ke dalam grup aplikasi pesan instan WhatsApp (WA) yang dibuat oleh panitia pengisian perangkat desa. Dalam grup tersebut, banyak peserta yang menyampaikan sindiran terhadap panitia dan peraih nilai tertinggi.
“Banyak sekali setelah itu, berupa ucapan sindiran dan lain sebagainya. Grup rame mulai pukul 2 siang setelah teman-teman pulang dan hasil dishare di grup, namun panitia baru menanggapi pukul 19.11,” tuturnya.
Keterlambatan respon panitia dinilai memperkeruh suasana. Peserta semakin kesal karena respon yang akhirnya diberikan dinilai meremehkan. Panitia beralasan sibuk dengan urusan lain.
“Assalamu’alaikum. Mbak / mas mohon maaf bukan kita tidak mau balas chat panjenengan, namun masih ada hal yg harus diselesaikan. Mboten pegang HP terus tidak hanya ngurusi soal perangkat desa mawon (saja). Maka dari itu sekali lagi mohon maaf,” demikian kutipan pesan panitia di grup WA yang diterima peserta.
Yang semakin memicu kekecewaan, menurut pengakuan peserta, adalah minimnya tanggung jawab yang ditunjukkan panitia. Alih-alain memberikan penjelasan yang memuaskan, admin yang mewakili panitia justru memilih keluar dari grup WA keesokan harinya.
“Panitia nggak banyak menjawab pertanyaan peserta di grup. Terus besok paginya panitia keluar dari grup WA,” pungkas peserta itu.
Menanggapi situasi ini, Forum Bhayangkara Indonesia (FBI) Kabupaten Ngawi menyatakan akan meminta klarifikasi kepada penyelenggara ujian.
“Kami sudah mencatat info-info yang ada di lapangan, dan akan meminta klarifikasi penyelenggaranya,” kata Ketua FBI Kabupaten Ngawi, Sigit Pranoto, pada Kamis (20/11/2025).
Sigit juga menyampaikan bila nama yang lolos dalam ujian tersebut sudah beredar sebelumnya, dan dari hasil penilaian juga terlihat janggal antara peraih nilai tertinggi dengan peringkat kedua dan berikutnya.
“Tim kita menemukan fakta bahwa sebelum ujian ada tiga nama peserta yang akan lolos. Dua nama yang berinisial L dan A itu lolos, dan yang satu tidak jadi mendaftar. Mereka lolos ujian dengan perolehan nilai yang gapnya juga jauh dengan peserta lainnya,”
Tidak berhenti pada tindakan klarifikasi, FBI juga berencana membawa persoalan ini ke inspektorat Kabupaten Ngawi atau bahkan langsung ke APH.
“Bila perlu kita akan bawa ke inspektorat, atau bila perlu ke APH ,” tambah Sigit. (RYS)






