Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Dilansir dari beberapa sumber informasi, “Jebeng Thulik” adalah duta pariwisata dan budaya Kabupaten Banyuwangi. Yang mana untuk menyandang gelar sebagai “Jebeng Thulik” adalah mereka yang memiliki kemampuan tentang kepariwisataan dan kebudayaan yang dipilih setiap tahun melalui ajang pemilihan.
Sebutan sebagai “Jebeng” untuk anak perempuan, dan sebutan “Thulik” untuk anak laki-laki dari suku “Osing” Banyuwangi. Pakaian adat suku “Osing” tentu melekat dengan sebutan sebagai “Jebeng Thulik” dan yang terpilih nantinya akan jadi duta untuk mempromosikan pariwisata dan budaya Banyuwangi.
Hari ini Kamis 11 Desember 2025 awak media dapati para Finalis “Jebeng Thulik” Banyuwangi berada di “Griyo Alit” kediaman Mura’i Ahmad, SE., SH., MH Kepala Desa Gumirih Kecamatan Singojuruh. Perlu diketahui bahwa di “Griyo Alit” milik Mura’i Ahmad ini, banyak koleksi benda-benda antik kuno. Yang diperkirakan benda-benda tempo dulu di “Griyo Alit” milik Mura’i Ahmad adalah potret keberadaan dan peradaban suku “Osing”.
Mura’i paparkan bahwa di “Griyo Alit” miliknya, para finalis “Jebeng Thulik” dengan cukup melihat-lihat beragam benda kuno yang ada. Bisa membaca dan membayangkan seperti apa potret peradaban kehidupan para leluhur suku “Osing” Banyuwangi dulu. Setiap jenis benda dibuat oleh para leluhur jaman dulu selain bernilai manfaat, juga ada yang bisa diambil nilai filosofinya. Satu contoh dijelaskan oleh Mura’i Ahmad saat menjawab pertanyaan salah satu finalis yang menanyakan kenapa di sepanjang jalan masuk ke “Griyo Alit” banyan terlihat “Gentong” (Tempayan).
“Gentong itu dilihat dari sisi kegunaannya adalah alat untuk tempat menyimpan air, bergeser ke era berikutnya ada yang digunakan sebagai tempat menyimpan beras. Tapi jangan lupa, Gentong yang punya makna lain tempat menampung atau menyimpan ini ada filosofinya. Orang tua di Banyuwangi kerap kali berpesan kepada anaknya yang memasuki usia dewasa, ‘leek siro mbesok kadung wis rabi ojok sampek bocor Gentonge”. Artinya ‘nak kamu nanti kalau rumah tangga, jangan sampai istrinya suka hidup boros’. Itulah filosofi dari benda kuno Gentong”, papar Mura’i Ahmad.
“Kalau kursi, jendela, pintu kuno dan bermacam-macam motifnya itu, saya sengaja memburu dari beberapa tempat di Banyuwangi ini. Saya punya tim khusus pemburu barang kuno dan antik tersebar di beberapa Desa dan Kecamatan se Banyuwangi. Kenapa saya tertarik dan tekuni masalah ini, thulik dan jebeng jangan melihat fisik bendanya yang usang dan terlihat berantakan. Barang-barang yang ada di Griyo Alit ini memang banyak yang usang, tapi jangan lupa justru yang terlihat usang ini mendatangkan uang. Kenapa, karena yang dinilai bukan fisik barangnya, namun nilai sejarah yang melekat pada barang itu yang mahal harganya”, jelasnya disambut applouse.
Untuk lebih detailnya soal “Griyo Alit” berikut penjelasan apa saja yang dibutuhkan oleh para finalis “Jebeng Thulik” Banyuwangi 2025. Mura’i Ahmad mengaku siap membantu selama 3 hari finalis “Jebeng Thulik” berada di “Griyo Alit”. Di kesempatan yang sama selaku yang akan berketempatan kegiatan para finalis “Jebeng Thulik” selama 3 hari. Mura’i Ahmad persilahkan istrinya Rizky Mery Amalia Rusadi, SH (Bu Kades) sapa para finalis “Jebeng Thulik”.
Rizky Mery Amalia Rusadi, SH (Bu Kades) setelah memperkenalkan diri, meminta kepada para finalis “Jebeng Thulik”. Untuk tidak sungkan-sungkan menyampaikan, bila ada sesuatu yang dibutuhkan selama berada di “Griyo Alit”. Agar tidak ada pembatas atau merasa siku dan sebagainya, Rizky pun minta adik-adik finalis “Jebeng Thulik”. Untuk tidak panggil dirinya dengan sebutan Bu Kades, anggap saja sebagai ibu atau kakak saja. Berikut Rizky, perkenalkan orang-orang yang bakal melayani kebutuhan para finalis “Jebeng Thulik” selama kegiatannya di “Griyo Alit”. (r35).
