Jalan penghubung Karanganyar – nambakor akses ke jalan nasional belum ada perhatian serius dari pemerintah Sumenep

Kabaroposisi.net|Sumenep – potret desa muncul sebuah pemandangan yang memperlihatkan penderitaan warga yang sedang dalam proses perbaikan jalan penghubung desa pinggir papas, Karanganyar , nambakor, juga akses menuju jalan nasional di kerjakan secara gotong royong /swadaya masyarakat setempat.

Terpampang spanduk bertuliskan “Gotong Royong: Bupati, Wakil Bupati, DPR Dilarang Lewat.”

Spanduk ini menjadi “monumen” sindiran yang tajam bagi para pejabat desa sampai pejabat pemerintah kabupaten Sumenep, termasuk anggota dewan yang memegang amanah wakil rakyat.

Perbaikan jalan yang di kerjakan oleh swadaya masyarakat sempat Terhambat, kerena faktor Cuaca hujan, pekerjaan di waktu hujan menunjukkan realitas pahit di lapangan. Papar Edi pola,19/12/25.

Edi pengurus (Gip) menambahkan,’ masyarakat tidak hanya menyumbangkan tenaga, tapi juga materi untuk memperbaiki akses mereka sendiri.

Ketika hujan turun dan pekerjaan terpaksa berhenti, di sanalah rasa lelah dan kecewa memuncak, dilarang melintas bagi mobil plat merah M 1 VP , juga M 2 VP menjadi perhatian pedas,

“Kami sedang bersusah payah memperbaiki apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab baliulah, jadi jangan datang hanya untuk mencari muka saat jalan ini sudah bagus nantinya.

Konteks “Dilarang Lewat” saat perbaikan tertunda adalah bentuk proteksi harga diri. Warga ingin memastikan hasil keringat mereka tidak rusak oleh kendaraan pejabat sebelum benar-benar kering. Ada pesan psikologis di sana, Rakyat Karanganyar pinggir papas mampu mengurus dirinya sendiri, Mereka tidak butuh kehadiran pejabat yang hanya muncul dalam bentuk photo di Baner, tapi absen dalam realitas pembangunan desa. Tegasnya.

Dalam kondisi dan situasi saat ini, teman-teman yang tergabung dalam GIP, Gerakan Insan Peduli, hadir dengan prinsip yang jelas, sangat peduli terhadap kemanfaatan orang banyak, bagi Gerakan Insan Peduli.

Aksi warga Sumenep ini adalah cermin dari matinya fungsi pelayanan publik. Gerakan ini berdampak bahwa kegotongroyongan warga bukanlah sebuah prestasi pemerintah, melainkan sebuah “tamparan” pedas bagi para pejabat.

Pengurus beserta anggota Gerakan Insan Peduli, tetap semangat berkomitmen untuk mengawal aspirasi, juga memastikan suara warga yang terbungkam di balik spanduk sindiran sampai ke kursi kekuasaannya

Aksi Nyata: Mendampingi setiap langkah kemandirian warga agar tidak merasa berjuang sendirian.

Edukasi Kritis: Mengajak masyarakat untuk terus kritis terhadap hak-hak pembangunan yang seharusnya mereka terima dari negara.

Mencari “Payung” di Tengah Hujan

Hujan yang menghentikan pekerjaan swadaya adalah simbol belum hadirnya “payung” pemerintah bagi masyarakatnya. Jika rakyat sudah mengambil alih peran negara, maka spanduk tersebut adalah pernyataan kemerdekaan dari ketergantungan janji politik.

Ini adalah teguran bagi Pemkab Sumenep. Melalui dorongan moral dari Gerakan Insan Peduli, kita diingatkan bahwa negara tidak boleh membiarkan rakyatnya berjuang sendirian melawan lumpur dan hujan demi sebuah akses jalan yang layak,

“Harapan Hery Samaun,” selaku sesepuh (GIP), Hery berharap kepada kedua anggota dewan putra daerah setempat, pinggir papas, Karanganyar, agar tidak tutup mata terhadap jajan – jalan yang sudah rusak parah, yang selama bertahun-tahun tidak tersentuh angggaran pemerintah, harapnya,’ (Hr.)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *