Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Ibarat pribahasa “sudah jatuh ketimpa tangga pula”, itulah kira-kira yang dialami warga Dusun Sambungrejo Desa Bayu Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi. Betapa tidak, selain jembatan penghubung akses utama perekonomian masyarakat yang ambrol belum juga ada tanda-tanda ada perbaikan oleh Pemerintah/Dinas terkait. Ternyata ruas jalan Kabupaten menuju tempat wisata bersejarah “Rowo Bayu” kondisinya rusak.
Sebagaimana disampaikan oleh Mulyo Nugroho (Ketua PAC GRIB JAYA Songgon) kepada awak media dalam konfirmasinya melalui saluran Whats-App. Kegiatan penambalan jalan berlubang menggunakan rabat beton (cor), seharusnya tidak harus dilakukan oleh masyarakat.
“Penambalan jalan berlubang dalam istilah lainnya adalah pemeliharaan jalan, seharusnya tidak oleh masyarakat. Melainkan jadi kewajiban dan tanggung jawab penyelenggara jalan, masyarakat adalah penikmat hasil pembangunan. Saya kira penyelenggara jalan di Pemkab Banyuwangi tahu dan paham betul apa yang diatur dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan”, tutur Mulyo Nugroho yang juga mantan Konsultan Tehnik Sipil dan Arsitektur itu.
Lanjut Mulyo Nugroho singgung soal Desa Bayu yang disebutnya punya latarbelakang sejarah cikal bakal Hari Jadi Banyuwangi (HARJABA).
“Pemkab Banyuwangi juga tahu di Desa Bayu ada tempat wisata bersejarah Rowo Bayu. Tapi kenapa kok sepertinya masyarakat dan Desa Bayu terlupakan, infrastruktur jalan rusak, dan jembatan ambrol tidak segera ada perbaikan”, imbuh Mulyo Nugroho.
Lanjut kata Mulyo Nugroho, penambalan jalan berlubang dilakukan selain karena alasan demi kenyamanan dan keselamatan masyarakat pengguna jalan. Juga karena kecewa tidak ada perhatian yang serius dari Pemerintah Kabupaten untuk melakukan perbaikan.
Syamhan yang julukannya lain adalah Sakera (Wk. PAC GRIB JAYA Songgon), ketika ditanya alasan dilakukan penambalan jalan, kepada awak media menyampaikan,
Lanjut pria berjuluk Sakera itu, untuk sementara itu yang bisa dilakukan, demi antisipasi terjadinya kecelakaan. Kalau ada dana lagi akan dilanjutkan penambalan jalan berlubang terutama yang lebih parah di tanjakan. Kalau pengguna jalan tidak hati-hati pasti akan alami kecelakaan di tanjakan dan itu sering terjadi kata Syamhan alias Sakera. Sedikit disentil oleh Syamhan, katanya dari Pemerintah Desa juga tidak ada kepedulian untuk melakukan penambalan jalan.
Tokoh warga setempat Aliyanto alias Pak Supriadi dan Masmo alias Pak Lail, saat ditemui awak media menyampiakan harapannya.
Disentil warganya bahwa Pemerintah Desa tidak peduli, Ir. Yulia Herlina (Kepala Desa Bayu) menanggapinya dengan kalimat yang cukup bijak.
“Kami sangat mengapresiasi semangat gotong royong warga Dusun Sambungrejo yang melakukan penambalan jalan secara swadaya. Itu bentuk kepedulian yang luar biasa terhadap lingkungan. Namun perlu kami sampaikan bahwa jalan tersebut adalah jalan Kabupaten, sehingga kewenangan perbaikan dan penganggarannya berada di pemerintah Kabupaten, bukan di pemerintah desa”, jelasnya.
Sebagai sedikit pemahaman Kades Bayu memaparkan bahwa, untuk kondisi saat ini, Dana pada (DD) yang tinggal pada kisaran 300 jt an per tahun. Yang mana penggunaannya pun sudah diatur secara ketat oleh pemerintah pusat. Sementara prioritas alokasi DD difokuskan pada penanganan stunting, program PMT, BLT Dana Desa, serta program-program mendesak lainnya yang sifatnya wajib dan prioritas nasional.
Sehingga tegas Yulia Herlina, memang tidak tersedia alokasi untuk pembangunan infrastruktur jalan Kabupaten. Meski demikian, selaku pemerintahan desa, Kades mengaku tetap berkoordinasi dan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pihak Kabupaten agar jalan tersebut bisa segera mendapatkan perhatian sesuai kewenangannya. (r35).
