KABAROPOSISI.NET|Blora — Suasana khidmat sekaligus penuh kebersamaan menyelimuti Pendopo Pengayoman Mbah Samin Surondiko di Desa Ploso Kediren, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Minggu (15/3/2026). Di tempat yang sarat makna sejarah itu, ratusan Sedulur Sikep berkumpul memperingati 119 tahun perjuangan Samin Surosentiko, sosok yang dikenal sebagai pelopor gerakan perlawanan rakyat berbasis kejujuran, kesederhanaan, dan keberanian melawan ketidakadilan.
Peringatan yang mengusung tema “Nyawiji Guyub Nutugno Lakon” itu bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan lintas daerah, tempat nilai-nilai luhur yang diwariskan sang tokoh kembali dipertautkan dengan zaman. Sedulur Sikep dari berbagai wilayah seperti Blora, Bojonegoro, Ngawi, Pati, Grobogan, Madiun, Ponorogo hingga Rembang hadir, memperlihatkan bahwa warisan ajaran Samin masih hidup dan berdenyut dalam kehidupan masyarakat.
Rangkaian acara dimulai sejak siang hari melalui Timbang Gunem atau dialog kebijaksanaan yang menjadi sarana refleksi bersama. Dalam forum itu, para sedulur saling berbagi pemahaman mengenai ajaran hidup Mbah Samin yang menekankan kejujuran, kesederhanaan, dan keberanian bersikap lurus.
Memasuki malam, suasana berubah semakin sakral. Prosesi Lamporan dan Suluh Samin digelar sebagai simbol penerang nilai-nilai perjuangan yang diwariskan lintas generasi. Cahaya obor yang menyala di tengah malam Randublatung seakan menjadi metafora bahwa ajaran Mbah Samin tak pernah padam oleh zaman.
Acara kemudian ditutup dengan tradisi Brokohan, makan bersama yang sarat filosofi kebersamaan dan kesetaraan—nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan Sedulur Sikep.
Salah satu sesepuh Samin dari Pati, Gunretno, menuturkan bahwa peringatan perjuangan Mbah Samin mulai digelar secara rutin sejak 2022 di lokasi tersebut. Menurutnya, pertemuan tahunan ini menjadi cara untuk terus membuktikan bahwa ajaran yang diwariskan Mbah Samin bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi nilai hidup yang relevan hingga kini.
“Kami berkumpul setiap tahun untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan Mbah Samin dan memastikan nilai-nilainya tetap dipahami generasi sekarang,” ujarnya.
Hadir dalam peringatan tersebut, Arief Rohman menyampaikan apresiasi mendalam kepada Sedulur Sikep yang terus menjaga dan merawat warisan budaya tersebut.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Blora, kami sangat mengapresiasi sedulur semua yang masih uri-uri tradisi. Ini bukan hanya budaya lokal, tetapi warisan nilai yang luar biasa,” ungkapnya.
Bupati yang akrab disapa Mas Arief itu menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung pelestarian ajaran Mbah Samin, bahkan mendorong agar nilai-nilainya masuk dalam literasi pendidikan.
Menurutnya, semangat kejujuran, kesederhanaan, serta keberanian melawan ketidakadilan yang diajarkan Samin Surosentiko merupakan fondasi karakter yang sangat penting bagi generasi muda.
“Kita berharap sejarah perjuangan ini bisa dibukukan dan menjadi literasi bagi anak-anak sekolah di Blora. Kalau bisa tulisan-tulisan tentang Samin diperluas dan disimpan di perpustakaan agar menjadi wawasan bagi generasi penerus,” tuturnya.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh tersebut, nama Samin Surosentiko juga telah diabadikan pada sejumlah fasilitas publik di Blora, seperti Gedung Samin Surosentiko dan RSUD Randublatung Samin Surosentiko.
Peringatan 119 tahun perjuangan ini juga diwarnai dengan pembacaan puisi tentang Samin oleh salah satu warga yang hadir, menambah nuansa reflektif pada malam peringatan tersebut.
Lebih dari sekadar mengenang masa lalu, peringatan ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan Mbah Samin kejujuran, kesetaraan, dan keberanian tetap relevan bahkan di tengah dunia modern.
Dari Randublatung, pesan itu kembali digaungkan: bahwa kearifan lokal yang lahir dari tanah Blora bukan hanya milik daerah, tetapi bagian dari warisan moral yang pantas diperkenalkan kepada Indonesia, bahkan dunia.(GaS)
