Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Ribuan Umat Hindu se wilayah lereng Raung (Kecamatan Songgon, Kecamatan Sempu, Kecamatan Genteng, Kecamatan Glenmore, dan Kecamatan Kalibaru). Minggu 15 Maret 2026, melaksanakan tradisi menjelang Hari Raya Nyepi yaitu Upacara Melasti Swasty Saka Warsa Titah 1948 di Pelataran Rowo Bayu Kecamatan Songgon.
Pengamatan media, meski hujan deras mengguyur tak mengurangi semangat dan keniatan untuk melaksanakan peribadatannya. Ratuasan kendaraan roda dua dan puluhan kendaraan roda empat pengangkut rombongan umat Hindu dari 4 Kecamatan selain Songgon. Ramaikan jalur raya Songgon menuju lokasi Upacara di Rowo Bayu, Desa Bayu.
Acara yang semula akan dimulai jam : 09:00 Wib terpaksa sedikit mundur sekira 1 jam, mengingat cuaca kurang mendukung. Juga karena rombongan umat Hindu harus menunggu giliran satu per satu alias bergantian ketika akan melintas di atas Jembatan yang ambrol tepatnya di perbatasan Dusun Bayurejo dan Dusun Sambungrejo Desa Bayu. Karena ketakutan, ada juga yang turun dari kendaraan untuk kurangi beban kendaraan yang ditumpanginya.
Sangat disayangkan, ternyata suara aspirasi warga Desa Bayu yang menyimpan sejarah sangat berarti bagi Kabupaten Banyuwangi itu. Yang menginginkan ada perbaikan pada Jembatan ambrol dan membahayakan pengguna jalan itu, belum ada respon dari Dinas terkait Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Bambang Suhendik, salah satu tokoh masyarakat juga aktivis di Kecamatan Songgon kepada awak media mengatakan.
“Saya gak habis pikir, ada apa dengan Desa Bayu yang merupakan rahim dari Kabupaten Banyuwangi ini. Saya yakin orang-orang di Pemkab Banyuwangi, tahu kalau di Desa Bayu ada peristiwa berdarah-darah cikal bakal lahirnya Banyuwangi. Pertanyaanya apakah tidak ada nilainya sejarah perang Puputan Bayu bagi Pemkab Banyuwangi ?. Rowo Bayu tempat wisata bersejarah yang mestinya bisa menopang inkam masyarakat, berdayakan UMKM juga mati suri”, ujar Aktivis yang bersebutan Hendik Keriwul itu.
Masih kata Hendik, beruntung kemarin rombongan saudara-saudara umat Hindu yang akan melaksanakan peribadatan ke Rowo Bayu, tidak ada yang mengalami hal-hal tidanlk diningingkan. Tak cukup di situ, Hendik Keriwul diakhir penyampaiannya menegaskan, soal Rowo Bayu dan infrakstruktur di Desa Bayu. Bukan hanya jadi beban pemikiran warga Desa Bayu, melainkan juga beban dan tanggung jawab warga se Kecamatan Songgon untuk memperjuangkannya.
“Masalah Rowo Bayu juga infrastruktur di Desa Bayu, sekarang juga jadi tanggung jawab kami sebagai warga negara yang menganggap bahwa peristiwa sejarah di Desa Bayu sangat berharga. Maaf.., bila dalam waktu dekat masih tidak ada respon perbaikan Jembatan dan infrastruktur jalan di Desa Bayu. Maka kami akan lakukan aksi kotak amal keliling, bahkan meski harus ke kantor Gubernur, dan ke Presiden Prabowo sekalipun akan kami lakukan. Ini bukan gertak sambal, tapi semangat dan sejarah Puputan Bayu yang menginspirasi jiwa dan pemikiran kami” tegas dan pungkas si Keriwul. (r35).






