Kabaroposisi.net | BANYUWANGI –Kelangkaan LPG subsidi 3 Kg di wilayah Kecamatan Singojuruh dan sekitarnya, masih dialami oleh kebanyakan masyarakat. Merespon kondisi tersebut Dendy Eka Wardana, SH Sekjend Forum Singojuruh Bersatu (FSB) menyebutnya aneh. Di Kecamatan Singojuruh ada 2 SPBE tidak bisa mengkafer kebutuhan sehingga menimbulakan keresahan di masyarakat.
“Aneh, di Kecamatan Singojuruh ini ada 2 SPBE tidak bisa mengkafer kebutuhan masyarakat sehingga menimbulkan keresahan. Sepertinya kelangkaan LPG dijadikan kesempatan oleh para pengecer untuk menaikkan harga dan itu berfaritip yang semuanya di atas HET”, ujarnya Kamis 19 Maret 2026.
Mengingat hal itu Dendy Eka Wardana SH (Sekjen FSB) mengaku tergugah untuk menelusuri penyebab terjadinya kelangkaan LPG 3 Kg tersebut. Selain itu kata Dendy, ingin mengetahui apa motif dari toko toko pengecer dan Agen penyalur menaikkan harga. Apakah atas instruksi dari Pertamina atau atas kemauan sendiri, memanfaatkan masyarakat yang sedang sangat membutuhkan.
Dari hasil penelusurannya Dendy mengaku menemukan beberapa fakta di lapangan diantaranya ada toko pengecer yang dengan harga Rp.25.000,-. Itupun menurut pengakuan salah satu toko pengecer di Desa Padang Kecamatan Singojuruh stok barangnya terbatas. Lebih lanjut kata Dendy, toko pengecer menjual dengan harga Rp.25.000 mendapat keuntungan Rp.2000,-. Artinya toko pengecer mendapat pasokan dari Pangkalan/Agen dengan harga Rp. 23.000,-
Namun demikian Dendy dalam penusurannya, mengaku juga menemukan Sub Penyalur LPG subsidi 3 Kg, tetap menjual dengan harga normal Rp. 18.000,- sampai Rp. 20.000,-.
“Data yang berhasil kami temukan di lapangan menimbulkan tanda tanya besar. Karena kenyataan yang kami temukan dilapangan masyarakat masih mengeluhkan adanya kelangkaan, ini fakta. Saat menjelang hari Raya Idul Fitri LPG subsidi 3 Kg jadi kebutuhan vital masyarakat terlebih naiknya harga ini sangat membebani. Belum lagi terjadi kenaikan pada harga kebutuhan bahan pokok yang lain”, jelentrehnya.
Menanggapi fenomena yang terjadi dan berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, Dedy menduga ada indikasi permainan, mungkinkah di tingkat Agen LPG kah..? atau dari Pangkalan LPG ?.
“Maka kalau ini benar terjadi demikian, maka saya pikir dalam hal ini Satgas Pangan Pemkab Banyuwangi kecolongan dalam pengawasan. Saya berharap Satgas Pangan untuk segera mengambil langkah tegas. Karena menurut saya kondisinya sudah emergency, sehingga masyarakat tidak punya penafsiran macam-macam”, pungkasnya. (r35).






