Tangis Sanak Saudara, Kerabat dan Keluarga Pecah Saat Mura’i Ahmad Berpamitan Berangkat Haji

Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Setelah bertahun-tahun lamanya menunggu, akhirnya impian Mura’i Ahmad, SH., MH Kepala Desa Gumirih Kecamatan Singojuruh. Untuk mendapatkan panggilan sebagai tamu Allah ke Mekkah Almukarromah dan Madinah Al-Munawaroh, kesampaian jua.

Tentu selama dalam penantiannya dibutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi, baik dalam hal menunggu tiba waktunya maupun mempersiapkan segala kebutuhan pendukungnya. Seolah menjadi benar apa yang pernah disampaikan oleh KH. Muaf Ali Wafa Pengasuh Ponpes Al Muayyad Gayam.

Bacaan Lainnya

Yang mana pada satu acara di Griyo Alit kediaman Mura’i Ahmad, KH. Muafi Ali Wafa dalam tauziahnya mengatakan. Bahwa melaksanakan haji bukan bagi mereka yang mampu dari sudut pandang ekonominya, melainkan mereka yang dimampukan oleh Allah secara lahir batin. Dan disebutnya Mura’i Ahmad bisa melaksanakan ibadah haji karena dimampukan oleh Allah.

Mura’i Ahmad ditakdirkan berangkat melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekkah pada hari ini Selasa 12 Mei 2026. Pada sekira pukul : 15:00 Wib sanak saudara, kerabat dan keluarganya melepas keberangkatannya. Sekira 15 menit sebelum berangkat, Mura’i Ahmad berpamitan kepada anak istri, sanak saudara, kerabat dan keluarga di halaman Griyo Alit kediamannya.

Pantauan media, pada saat Mura’i Ahmad berpamitan mohon doa restu dan menyampaikan permohonan maaf kepada istri dan anak-anaknya, sudara, dan para tetangga. Suasana menjadi haru tangispun pecah, ketika Mura’i Ahmad menitipkan anak dan istri kepada saudara-saudaranya juga tetangga untuk dijaga dan dibantu selama ditinggalkan ke tanah suci Mekkah.

Terlebih pada saat prosesi pelepasan di sekitar area kantor Desa Gumirih. Suara adzan dan sholawat haji yang berkumandang, seolah menambah perasaan berat hati melepas kepergian Mura’i Ahmad. Namun harus diikhlaskan dan syukuri karena disadari bahwa Mura’i Ahmad pergi memenuhi panggilan Allah ke tanah suci Mekkah.

Suasana haru pun semakin menebal ketika Mura’i Ahmad berpamitan pada prosesi pelepasan yang dipandu oleh KH. Muafi Ali Wafa. Jabat tangan dan saling berpelukan lepas kepergian Mura’i Ahmad memaksa banyak mata berkaca-kaca luapan haru yang mendalam. (r35).

Pos terkait