KABAROPOSISI.NET|Blora — Menjelang peringatan Hari Tani Nasional 2026, Jateng Guyub mengajak masyarakat menjadikan momentum 24 September sebagai penguat perjuangan menjaga ruang hidup rakyat, salah satunya melalui penolakan terhadap rencana proyek geothermal di kawasan Gunung Lawu. Bagi mereka, Lawu bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber kehidupan yang menopang jutaan warga di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Gunung Lawu selama ini dikenal sebagai kawasan resapan air yang menghidupi pertanian, perkebunan, dan kebutuhan air bersih masyarakat di Karanganyar, Magetan, Ngawi, Sragen, Wonogiri hingga Solo Raya. Kelestarian hutan Lawu dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus ketahanan pangan di wilayah sekitarnya.
Jateng Guyub menilai rencana eksplorasi dan eksploitasi geothermal berpotensi mengganggu fungsi ekologis kawasan. Aktivitas pembangunan infrastruktur, pembukaan lahan, pengeboran, hingga pemasangan jaringan pendukung dikhawatirkan berdampak terhadap ketersediaan sumber air, lingkungan, serta kehidupan para petani yang selama ini bergantung pada kawasan Gunung Lawu.
Menurut mereka, penolakan tersebut bukan berarti menentang pengembangan energi terbarukan. Sebaliknya, Jateng Guyub menegaskan bahwa transisi energi harus dilaksanakan secara adil dengan mengutamakan keselamatan lingkungan dan hak-hak masyarakat yang hidup di sekitar wilayah terdampak. Pembangunan, menurut mereka, tidak boleh mengorbankan ruang hidup rakyat atas nama investasi.
Melalui momentum Hari Tani Nasional, Jateng Guyub bersama petani, mahasiswa, pemuda, masyarakat adat, dan berbagai elemen masyarakat akan menggelar Aksi Rakyat pada 22–24 September 2026. Aksi itu menjadi wadah untuk menyuarakan perlindungan kawasan Gunung Lawu sekaligus memperjuangkan kedaulatan pangan, kelestarian lingkungan, dan keadilan bagi masyarakat.
Dalam aksinya, mereka mendesak pemerintah menghentikan seluruh proses perizinan maupun eksplorasi geothermal di Gunung Lawu, menetapkan kawasan tersebut sebagai wilayah konservasi sekaligus penyangga sumber air dan pangan, serta mendorong kebijakan energi yang lebih partisipatif tanpa mengorbankan ruang hidup masyarakat.
“Bagi kami, menjaga Gunung Lawu berarti menjaga masa depan petani, sumber air, dan kehidupan generasi mendatang. Hari Tani Nasional harus menjadi momentum memperkuat perjuangan rakyat, bukan membuka jalan bagi proyek yang berpotensi mengancam keberlangsungan ruang hidup,” tegas Jateng Guyub.(GaS)
