Weruh Punden 2026: Cara Unik Petani Pati Respons Konflik Agraria Lewat Seni, Riset, dan Tuntutan Reforma Agraria

KABAROPOSISI.NET|Pati — Gerakan Masyarakat Petani Pundenrejo (GERMAPUN) merespons ketimpangan agraria yang membelit wilayahnya dengan menggelar Festival Rakyat Weruh Punden 2026 di Dukuh Pule, Desa Pundenrejo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, pada 26–27 September 2026.

Festival yang dihadiri oleh jaringan solidaritas dari berbagai daerah ini digelar sebagai bentuk konsolidasi kaum tani Pundenrejo dalam merespons ketidakadilan tanah, ancaman kriminalisasi, serta intimidasi yang dialami warga selama puluhan tahun akibat konflik pertanahan dengan PT LPI.

Bacaan Lainnya

Selain menjadi ajang refleksi budaya, kegiatan ini dimanfaatkan untuk menguraikan kembali alur ketimpangan agraria di Pundenrejo serta meluncurkan riset kolaborasi antara LBH Semarang dan Trend Asia berjudul “Di Balik Rantai Pasok Gula Salim Group: Konflik Agraria dan Kekerasan Terhadap Petani Pundenrejo”.

Dalam momentum ini, warga Pundenrejo bersama jaringan masyarakat sipil menyampaikan tuntutan tegas kepada pemerintah, yaitu:

Mengembalikan tanah rakyat dengan segera menetapkan wilayah-wilayah konflik di Jawa Tengah menjadi Obyek Reforma Agraria, meliputi Pundenrejo (Pati), Dayunan (Kendal), Karangsari (Pati), dan Simbangdesa (Batang).

Mengehentikan segala bentuk tindakan kekerasan, premanisme, hingga kriminalisasi terhadap kaum tani yang berada di titik-titik lokasi konflik agraria di Jawa Tengah.

Atmosfer perjuangan kian terasa hidup saat gelaran Panggung Rakyat dibuka. Grup musik asal Yogyakarta, Sampar, tampil membawakan lagu-lagu perjuangan selama hampir satu jam. Dalam penampilannya, Sampar turut memperkenalkan beberapa lagu baru yang belum pernah dirilis di platform pemutar musik digital mana pun sebagai bentuk dukungan moral bagi warga Pundenrejo.

Suasana semakin bergelora dengan penampilan dari Kepal SPI, grup musik asal Yogyakarta berformat empat personel (perkusi, gitar, bass, vokal, dan harmonika). Mereka membawakan tembang-tembang bertema perlawanan, salah satunya lagu hits mereka, “Tanah untuk Rakyat”, yang selaras dengan narasi utama perjuangan warga malam itu.

Lewat perpaduan antara peluncuran riset hukum, penyampaian tuntutan sikap, dan panggung kesenian, warga Pundenrejo berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan sengketa pertanahan serta mewujudkan kedaulatan bagi petani lokal. (Kukuh)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *