Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Gandrung Sewu akan digelar pada Sabtu, 24 Oktober 2026 di Pantai Boom Marina, Banyuwangi. Kabarnya untuk pelaksanaan tahun ini Gandrung Sewu akan berlangsung di malam hari.
Dalam sejarah gelaran Gandrung Sewu di Banyuwangi selama ini. Baru pertama kali Gandrung Sewu dilaksanakan pada malam hari. Terlepas dari perbedaan waktu pelaksanannya, tentu penyelenggaran punya konsep yang mungkin dianggap akan lebih spektakuler dari sebelumnya.
Informasi yang beredar, gelaran Gandrung Sewu kali ini angkat tema “Kembang Darmo”, simbol keluhuran budaya bumi Blambangan. Jumlah penari yang terlibat dalam kegiatan Gandrung Sewu sekitar 1300 panari dari dalam dan luar Banyuwangi.
Hal tersebut awak media ketahui pada saat ada kegiatan latihan di Stadion Diponegoro Sabtu malam Minggu 17 Oktober 2026. Yang mana terlihat Suharto (Kades Singojuruh) sedang berlatih bersama persiapan pada kegiatan Gandrung Sewu.
Pengamatan awak media, dalam latihan Suharto (Kades Singojuruh), sedang berlatih tari/jogetan khusus. Yang kalau dalam pentas Gandrung sebagai pengantar sampur)selendang Gandrung ke meja tamu undangan.
Menurut Juwono salah satu seniman tari dan musik daerah Banyuwangi. Dalam istilah pentas Gandrung peran Suharto disebut “Tukang Gedhog”. Gerakan-gerakan tari yang dominan harmonisasinya antara gerakan kepala, tangan, hentakan kaki dengan irama kendang itu disebut joget “Srampad”.
Masih kata Juwono, dalam pentas Gandrung, joget “Srampad” gerakannya dominan dikendalikan Irama kedang. Dan sebagai pemanisnya “Srampadan” diiringi gending “Embat-Embat” cuplikan dari gending “Paju Gandrung”. Untuk mengantar “Sampur” ke meja tamu.
Sepemahaman awak media, tidak semua orang mampu memerankan joget “Srampad”. Kecuali memang melalui latihan khusus atau setidaknya mengalir darah seni dalam dirinya. Dalam hal ini tentu Kades Singojuruh Suharto, bukan tanpa riwayat punya kemampuan menari/joget “Srampad” itu
Usut bin usut dalam keterangannya kepada awak media, Suharto (Kades Singojuruh). Mengaku bahwa ternyata dalam diri Kades Singojuruh mengalir darah seni dari keluarga nya. Bahkan 2 (dua)orang kakak kandungnya pernah jadi juara tingkat nasional di bidang seni tari.
“Saya tentu merasa bangga terlibat dalam kegiatan Gandrung Sewu yang sudah menasional bahkan internasional. Saya diberi peran khusus yaitu sebagai pengantar sampur kepada para tamu kehormatan. Makanya saya ikut latihan malam ini, karena memang joget Srampad perlu konsentrasi penuh agar harmonis antara gerakan dengan gending yang mengiringinya “, ungkapnya. (r35).
