Tak Terpengaruh Kemarau, Produksi Padi Blora Tetap Moncer, Organik hingga Teknologi Gemburin Jadi Andalan

KABAROPOSISI.NET|Blora – Kabupaten Blora kembali membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Tengah. Di tengah musim kemarau, produktivitas pertanian tetap terjaga melalui pengembangan pertanian organik dan penerapan teknologi pertanian modern. Komitmen tersebut ditunjukkan Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, saat menghadiri panen padi di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, dan Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, Selasa (3/11/2026).

Panen pertama digelar di Desa Gondel dengan menampilkan hasil budidaya padi organik yang dikembangkan melalui pendampingan Trubus bersama Exxon. Sementara panen kedua berlangsung di Desa Sumber sebagai hasil demonstrasi penerapan pupuk pembenah tanah Gemburin dari PT Chemstar Agro Indonesia. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Forkopimda, Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4), serta para camat setempat.

Bacaan Lainnya

Dalam panen padi organik di Desa Gondel, Bupati Arief mengapresiasi semangat petani yang konsisten mengembangkan pertanian ramah lingkungan. Sebanyak 108 petani mengelola lahan organik seluas 6,6 hektare dengan menghasilkan beras bermerek Bestiw. Menurutnya, beras organik memiliki peluang memasuki pasar premium sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani. Ia berharap harga jual beras organik dapat mencapai sedikitnya Rp20 ribu per kilogram, lebih tinggi dibanding beras biasa yang berkisar Rp13 ribu per kilogram.

Namun demikian, Arief mengakui pengembangan pertanian organik masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan fasilitas pascapanen seperti mesin penggiling, oven, hingga mesin vakum. Karena itu, pemerintah daerah akan terus memperkuat pendampingan penyuluh pertanian lapangan (PPL), membantu pengujian kualitas beras, serta memperluas akses pemasaran agar produk organik Blora semakin mampu bersaing di pasar. Ia bahkan menegaskan cita-cita menjadikan Blora sebagai kabupaten organik melalui pengembangan bertahap di desa-desa yang memiliki potensi.

Program tersebut juga melibatkan kelompok perempuan tani. Perwakilan kelompok perempuan Desa Gondel, Unsiatun Noor, mengungkapkan bahwa selama enam bulan pendampingan mereka telah mempelajari budidaya berbagai sayuran organik hingga pembuatan mikroorganisme lokal (MOL) berbahan nasi. Meski telah memperoleh banyak pengalaman baru, mereka berharap pendampingan terus berlanjut agar kemampuan bertani organik semakin matang dan dapat diterapkan secara mandiri.

Sementara itu, pada panen raya di Desa Sumber, Bupati Arief menilai hasil penerapan teknologi pupuk pembenah tanah Gemburin cukup menjanjikan sebagai alternatif peningkatan produktivitas pertanian. Meski demikian, ia meminta agar hasil demplot tersebut ditindaklanjuti melalui kajian ilmiah dan pendampingan berkelanjutan untuk mengukur dampaknya terhadap peningkatan produksi, kualitas tanah, maupun efisiensi biaya usaha tani. Kepala DP4, penyuluh pertanian, dan Camat Kradenan diminta mengawal proses tersebut bersama kelompok tani.

Bupati Arief juga berharap PT Chemstar Agro Indonesia tidak hanya memperkenalkan teknologi Gemburin, tetapi terus mendampingi petani melalui edukasi dan kerja sama berkelanjutan dengan Pemerintah Kabupaten Blora. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan petani menjadi kunci menjaga produktivitas pertanian sepanjang tahun sekaligus memperkuat posisi Blora sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan Jawa Tengah bahkan nasional. (GaS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *