Pimpinan DPRD Dihadirkan Dalam Upacara Jelang Hari Raya Nyepi Oleh Warga Desa Patoman

Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Setelah hampir 2 tahun lebih Umat Hindu yang ada di Desa Patoman Kecamatan Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi. Tidak melaksanakan upacara jelang “Hari Raya Nyepi” dengan meriah seperti sebelumnya karena pandemi covid-19. Kali ini kegiatan yang merupakan adat relegi kebiasaannya dapat dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Upacra Pawai “Ogoh-Ogoh” jelang Hari Raya Nyepi kali ini angkat tema “SANGHYANG SANG KALA”.

Diketahui bahwa upacara yang serentak dilaksanakan oleh umat Hindu di Dusun Patoman Tengah Desa Patoman Kecamatan Blimbingsari tersebut. Sebagaimana keyakinanya untuk menyucikan diri baik lahir dan batin dalam menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1944 yang akan berlangsung pada tanggal 3 Maret 2022.

Dihadirkan dalam upacara relegi jelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1944 di Dusun Patoman Tengah yang lebih dikenal dengan Kampung Bali itu Michael Edy Hariyanto, SH salah satu Pimpinan DPRD Banyuwangi Fraksi Demokrat. Kehadiran Michael Edy Hariyanto atas undangan Perkumpulan Anak Muda Hindu (PRADAH) Desa Patoman.

Saat dikonfirmasi sebelum upacara Pawai “Ogoh-Ogoh” diberangkatkan, Michael yang juga anggota DPRD perwakilan dapil 2 itu, kepada awak media mengatakan,

“Yang pertama saya atas nama pribadi selaku anggota sekaligus pimpinan DPRD juga DPC Partai Demokrat. Mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1944 untuk saudara-saudaraku umat Hindu di Desa Patoman. Saya hadir atas undangan adik-adik pemuda Desa Patoman yang tergabung di PRADAH yaitu Perkumpulan Anak Muda Hindu”.

Ditambahkannya, “Saya menangkap kesan kebangsaan dari upacara jelang Hari Raya Nyepi di Desa Patoman ini. Bahkan kalau boleh saya menyebut Desa Patoman ini saya sebut Desa kebangsaan, kenapa..?. Saya dengar dari tokoh masyarakat, di Desa Patoman ini hampir semua pemeluk agama ada. Dan setiap digelar kegiatan agama masing-masing saling menghormati dan saling berbagi kebahagiaan. Seperti yang kita lihat hari ini perayaan releginya saudara kita umat Hindu yang melaksanakan. Tapi kebahagian dan kemeriahannya semua ikut merasakan, saling menghormati, saling menyesuaikan diri, inilah kenapa saya katakan Desa Patoman adalah Desa kebangsaan”, tutur Michael Edy Hariyanto.

Sebagai wujud toleransi dan penghormatan Michael ikut serta dalam pawai “Ogo-Ogo” bersama umat Hindu. Tampak pula bersamanya, Julisetyo Puji Rahayu (Sekertaris DPC Partai Demokrat Banyuwangi). Pawai “Ogoh-Ogoh” berlangsung meriah dan menyedot perhatian karena antraksi-antraksinya yang luar biasa. Iringan instromen kesenian tradisional menambahi kemeriahan dan sakralnya upacara.

Harapannya, “Semoga pandemi covid-19 segera berakhir sehingga semua ummat agama bisa melaksanakan kegiatan peribadatannya dengan baik. Kerukunan dan keharmonisan sesama ummat beragama tetap terjaga dengan baik, maka saya yakin Banyuwangi akan berkah ke depannya”, tutup Michael.

Menurut warga setempat, karena masa pandemi, tampilan “Ogoh-Ogoh” yang biasanya sebanyak 5 sampai 7 buah, kali ini hanya 3 buah “Ogoh-Ogoh”. Rutenya pun dikurangi, yang biasanya hampir semua gang kampung di lalui, kali ini hanya sebagian diambil rute utama saja. Namun meski demikian, upacara jelang Hari Raya Nyepi di Desa Patoman ini menyedot perhatian warga. Banyak warga dari luar Desa Patoman yang sengaja datang untuk ikut menikmati kemeriahan acara.

Menurut salah satu tokoh Hindu setempat yang awak media kenali namanya bernama panggilan Budi, saat dikonfimasi menuturkan,

“Rangkaian upacara jelang “Hari Raya Nyepi” yang dilaksanakan diantaranya adalah, upacara Melasti. Upacara Melasti adalah rangkain dari perayaan Nyepi menyucikan sarana persembahyangan dan tempat-tempat yang dianggap suci. Selanjutnya adalah Tawur Kesanga dan pawai (arak-arakan) Ogoh-Ogoh. “Ogoh-Ogoh” dalam upacara punya makna sebagai ilustrasi mengendalikan energi negatif atau prilaku jelek manusia. Yang mana sebagai simbol menghilangkan energi negatif itu dilakukan ritual membakar Ogoh-Ogoh tersebut”, tuturnya.

Benar adanya, selang beberapa menit “Ogoh-Ogoh” yang diarak oleh warga sejauh kurang lebih 2 Km itu datang. Setelah tiba di satu tempat dan setelah melakukan gerakan-gerakan hebat dan ekstrim, kemudian dibakar bersama-sama. Dan saat dilakukan pembakaran pada Ogoh-Ogoh itulah suara sorak-sorai pecah sebagai simbol kemenangan melawan energi negatif.

Sebagaimana dikutif dari beberapa sumber, saat Hari Raya Nyepi tiba, semua umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian. Jalan yang biasanya ramai menjadi sepi karena tidak ada warga yang lalu-lalang. Selama 24 jam listrik mati, atau tidak menyalakan api. Kecuali ada sesuatu hal yang sifatnya darurat, bisa dilakukan atau dilayani dengan kawalan ketat para Pecalang.

Yang menarik di Desa Patoman sebagaimana disampaikan warga muslim Dusun Patoman Timur. Warga yang rumahnya berdekatan dengan tetangga umat Hindu sedang merayakan Nyepi. Dengan kesadaran sendiri ikut mematikan listrik dan tidak lalu-lalang seperti biasanya selama 24 jam. Artinya budaya hormat-menghormati sesama pemeluk agama di Desa Patoman ketika ada kegiatan sudah mengakar secara turun temurun. (r35).

Pos terkait