Kades Singolatren Tekankan Moment Peringati Maulid Nabi Untuk Perubahan Prilaku Yang Lebih Baik Pada Perangkatnya

Kabaroposisi.net | BANYUWANGI – Lantuman sholawat untuk Nabi Muhammad Saw dan pembacaan Asrokol menggemma di Pendopo Kantor Desa Singolatren Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi Jumat 28/10/2022.

Peringatan Mauid Nabi kali oleh Pemdes Singolatren kali ini, meski terbilang sederhana namun tidak mengurangi kekhitmatan bersholawat dan baca qitab Bersanji mengenang hari kelahiran dan mengagungkan kebesaran Nabi Muhammad Saw. Peringatan Maulid Nabi diikuti oleh seluruh Perangkat Desa, ibu-ibu PKK dan Kader Pos Yandu menghadirkan penceramah rohani yaitu KH. Imam Muhtadi Pengasuh Ponpes Nurul Qur’an Wijenan Kidul.

Dalam sambutannya Apandi selaku Kepala Desa menyampaikan permohonan maaf bila pelaksanaan kegiatan memperingati hari lahir Nabi Muhammad Saw (Maulid Nabi), digelar dengan cara yang sederhana.

“Mari kita jadikan moment Maulid Nabi yag kita cintai ini tidak hanya sekedar megenang atau mengingat hari kelahirannya, akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita semua bisa ambil suri tauladan prilaku beliau supaya kita diakhirat nanti mendapatkan syafaatnya dan bisa bertemu dengan Nabi Muhammad Saw”, lontarnya.

Kepada seluruh Perangkatnya Kades Apandi tekankan agar dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada masyarakat kedepankan kejujuran dan keramahan. Juga kepada ibu-ibu PKK serta para Kader Pos Yandu berharap untuk ikhlas melayani masyarakat, pastikan masyarakat terutama ibu hamil, balita, lansia terlayani dengan baik jangan sampai ada keluhan.

Sementara KH. Imam Muhtadi dalam tauziahya mensupport agar lebih banyak bersholawat sebagai wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. Sekilas disampaikan sabda Nabi yang kurang lebihnya disampaikan, bahwa kelak diakhirat manusia akan dipertemukan dan dikumpulkan dengan orang-orang yang dicintainya. Artinya bila kita sungguh-sungguh mencintai Nabi Muhammad kelak dialhirat maka akan bertemu dan berumpul dengan Nabi Muhammad Saw.

Namun lebih gamblang dijelaskan oleh KH. Imam Muhtadi, bahwa cinta kepada Nabi yang dimaksut adalah melaksanakan apa yang jadi ajaran-ajaran yang sekarang diteruskan oleh para Ulama’ dan Kyai.

“Lumrahnya orang mencintai orang lain, maka pasti akan nurut dan niru apa yang jadi kebiasaannya, begitu pula ketika kita mengaku cinta kepada Nabi, ya mestinya suka melakukan apa yang menjadi sunnah dan ajaran-ajarannya, yang sehingga kita menjadi pantas untuk mendapatkan syafaatnya nanti di yaulmi qiyamah”, ungkap KH. Imam Muhtadi dalam tauziahnya. (R35).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *