POLIWANGI MEMPERKENALKAN INOVASI MATERIAL MAJU GREEN ECONOMY BLOK JEMARI BETON INTERLOCK (BERATON) DI DESA LABANASEM BANYUWANGI

Kabaroposisi.net.|Banyuwangi – Melalui skema Pengabdian Kepada Masyarakat Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Tahun Anggaran 2024 berjudul “Pemberdayaan Kelompok Pengrajin Bahan Bangunan dalam Pemanfaatan Limbah Jerami Padi untuk Inovasi Material Interlock Concrete Straw Blocks di Desa Labanasem Banyuwangi”,

Poliwangi membuat suatu produk inovasi material maju green economy berbahan limbah jerami padi yang dibuat dalam bentuk material bahan bangunan Blok Jerami Beton Interlock (Beraton). Tim pelaksana Pengabdian Kepada Masyarakat Poliwangi antara lain diketuai oleh Ibu Dora Melati Nurita Sandi, S.T., M.T. juga sebagai Ketua Program Studi D-IV Teknologi Rekayasa Konstruksi Jalan dan Jembatan; beranggotakan Bapak Catur Bejo Santoso, S.T., M.T. Dosen Prodi D-III Teknik Sipil; dan Ibu Riza Rahimi Bachtiar, S.P., M.P., MBA. salah satu Dosen D-IV Agribisnis Jurusan Pertanian yang didampingi oleh Bapak Zulis Erwanto, S.T., M.T., Dosen Teknik Sipil sebagai instruktur dalam proses pembuatan material bata interlock. Selain itu juga melibatkan 10 mahasiswa D-IV Teknologi Rekayasa Konstruksi Jalan dan Jembatan (TRKJJ) Politeknik Negeri Banyuwangi, sebagai bagian dari Program MBKM Desa Binaan di Desa Labanasem Banyuwangi.

Bacaan Lainnya

Analisis situasi di Desa Labanasem mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani karena memiliki sektor lahan pertanian yang cukup luas. Selain itu juga ada yang bergerak di bidang peternakan dan pengrajin/ pengusaha material bahan bangunan. Kelompok sasaran untuk pemberdayaan masyarakat berasal dari Kelompok Tani dan Kelompok Pengrajin Bahan Bangunan. Ada juga beberapa petani merupakan bagian dari pekerja pengrajin bahan bangunan itu sendiri. Mitra pengrajin bahan bangunan ini memproduksi material bahan bangunan berupa paving block, batako, gorong-gorong dan buis beton. Kelompok mitra saat ini belum tersentuh teknologi dan inovasi material maju green economy, sehingga kami berinisiatif memperkenalkan inovasi material maju tersebut dengan bahan baku campuran cacahan jerami padi yang ramah lingkungan tanpa proses pembakaran, ekonomis, efisien, praktis, dan berdaya saing, sehingga diharapkan dapat meningkatkan taraf ekonomi mitra.

Pada tanggal 31 Mei 2024 di Balai Desa Labanasem Banyuwangi, kami mensosialisasikan program kerja kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dihadiri oleh Perangkat Desa dan beberapa Kelompok Tani. Rencana program kerja PKM kami terhadap permasalahan analisis situasi permasalahan di mitra antara lain berupa rancang bangun alat cetak bata press manual, rancang bangun mesin pencacah jerami, mix desain komposisi material, penyuluhan terkait pemanfaatan potensi jerami padi dan studi kelayakan material, pelatihan pembuatan produk, uji mutu produk di Laboratorium, dan publikasi kegiatan. “Hasil rancang bangun alat cetak bata press manual dan mesin pencacah jerami padi ini akan kami serah terimakan kepada Desa Labanasem melalui Kepala Desa untuk bisa dimanfaatkan kelompok tani serta kami menitipkan mahasiswa kami ke Desa untuk bisa melakukan praktik pembuatan produk BERATON sebagai bagian dari program MBKM Desa Binaan”, kata Dora selaku ketua pelaksana. “Kami juga bersedia membantu memfasilitasi keperluan kegiatan penyuluhan dan pelatihan nantinya dan memberi kontribusi bantuan material semen dan pasir dalam proses pembuatan produk material tersebut”, pesan Maimun Ali Nasih, Kades Labanasem.

Tim pelaksana Pengabdian Poliwangi telah mendaftarkan Paten Sederhana invensi produk material maju Blok Jerami Beton Interlock (Beraton)/ Interlock Concrete Straw Blocks ini melalui Sentra KI Poliwangi yaitu berupa bata interlock berbentuk balok berbahan campuran pasir, semen, pasir, kalsium dan cacahan jerami padi. Beraton ini adalah modifikasi material bahan bangunan batako yang berbahan campuran limbah cacahan jerami padi yang berfungsi sebagai fiber.

Limbah jerami padi kebanyakan digunakan sebagai pakan ternak oleh warga, bahkan sebagian besar limbah jerami padi dibakar oleh para petani. Ada juga yang menggunakan abu jerami sebagai bahan campuran batu bata, beton, bata ringan, dinding, bahkan jerami digunakan sebagai bahan kerajinan/ souvenir. Berdasarkan kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2024 di Desa Labanasem yang dihadiri 32 peserta dari perangkat desa, kelompok tani, juga ada mahasiswa KKN dari Untag Banyuwangi, dengan narasumber Bapak Aldy Bahaduri Indraloka, S.Si., M.P. yang bergerak dibidang pemuliaan dan kultur jaringan tanaman yang menjelaskan bahwa limbah jerami padi mengandung serat dan nutrisi penting seperti karbohidrat, protein, dan mineral, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bahan baku pembuatan kompos, dan pupuk organik Bokashi dengan campuran bahan berupa jerami padi + serasah tebu + serbuk kayu + sekam dan kotoran sapi. “Selain itu, limbah jerami padi ataupun abunya juga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan material bahan bangunan, sedangkan untuk kelayakannya pemanfaatan limbah jerami padi menjadi campuran bahan material BERATON nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh Ibu Riza Rahimi Bachtiar, S.P., M.P., MBA. selaku narasumber kedua”, tambah Aldy.

“Analisis kelayakan material BERATON ini asumsi dasarnya mencakup umur proyek, suku bunga pinjaman yang berlaku, kapasitas produksi, jumlah hari kerja produksi, harga yang berlaku, modal yang digunakan, biaya pemeliharaan dan penyusutan mesin/ peralatan produksi, dan lain sebagainya”, kata Riza.

Hasil analisis kelayakan finansial untuk simulasi dalam per bulan 26 hari aktif dipotong hari libur dengan harga jual sebesar Rp. 3.000,-/biji, dengan produksi Bata 1.300 buah/ bulan didapatkan keuntungan sebesar Rp. 3,9 juta/ bulan. Untuk analisis R/C Ratio untuk produk BERATON mencapai 4,6 dan B/C Ratio sebesar 3,6. “Karena nilai R/C dan B/C lebih besar dari 1, maka produk BERATON layak untuk di hilirisasi”, tandas Riza Ahli Bidang Ekonomi Pertanian.

Batu bata saat ini perlu adanya inovasi dari sisi bahan baku, komposisi, bentuk, dan mutu yang bersifat green economy. Bata/ blok perlu sentuhan inovasi yang berbahan baku terbarukan, mampu mengurangi emisi karbon, ramah lingkungan tanpa pembakaran, memiliki komposisi campuran yang berkualitas tinggi, ringan, dan ekonomis, serta memiliki bentuk blok yang praktis, sederhana, interlocking (saling mengunci), dan lebih efisien dalam pelaksanaan pekerjaan pasangan dinding. “Ide awal pembuatan BERATON diawali untuk pembuatan material dinding penahan tanah atau plengsengan saluran dimana jika dilihat di lapangan pada dinding saluran irigasi yang menggunakan konstruksi pasangan batu kali tersebut cenderung konstruksinya mudah rapuh dan longsor, sehingga terbersitlah ide untuk membuat material bata interlock dengan dimensi agak besar agar bisa menahan tekanan tanah”, tambahan Dora.

Sehingga, invensi yang diusulkan berupa produk bata/ blok interlock dengan memanfaatkan limbah jerami padi berbahan campuran pasir, semen, kalsium, dan limbah cacahan jerami padi yang interlocking secara vertikal dan horizontal berbentuk balok lego modifikasi seperti kombinasi huruf “U” dan “M”. Desain model 1 block berukuran 40x15x15 cm dan ½ block berukuran 20x15x15 cm dengan bagian bawah terdapat 2 tonjolan tebal 2,5×5 cm dan 1 tonjolan 2,5×10 cm, pada bagian atas memiliki 2 tonjolan dengan tebal 2,5×10 cm, setiap tonjolan bagian atas diberi lubang persegi untuk isian mortar. Dibagian tengah bata diberi lubang tempat tulangan besi berukuran ø16 mm termasuk coakan tepi tengah sisi kiri-kanan bata. BERATON merupakan produk ramah lingkungan, tanpa proses pembakaran, berkualitas tinggi, menyerap emisi karbon, ekonomis, serta berdaya saing dengan bata konvensional dan pabrikasi industri.

Akhir dari kegiatan penyuluhan adalah penandatanganan berita acara serah terima alat cetak bata press manual dan mesin pencacah jerami padi antara ketua pelaksana program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Politeknik Negeri Banyuwangi dengan Kepala Desa Labanasem Bapak Maimun Ali Nasih. Kemudian akan dilanjutkan kegiatan pelatihan pembuatan produk BERATON bersama kelompok tani. Diharapkan alat yang telah dihibahkan ke pihak Desa dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga khususnya oleh kelompok tani.

Dalam proses pelatihan pembuatan produk material BERATON, para mahasiswa D4 TRKJJ Poliwangi membantu kelompok tani dalam mengarahkan bagaimana cara mencampur komposisi bahan adonan BERATON.

Campuran bahan menggunakan takaran timba untuk mempermudah para pengrajin atau petani dalam membuat takaran. Komposisi campuran yang kita gunakan adalah untuk adonan cetakan 1 bata dan dua buah cetakan ½ bata yaitu terdiri dari 4 timba pasir, ½ timba semen (2 kg), ½ timba kalsium, 1 timba cacahan jerami padi. Untuk komposisi takaran ini tentative bisa disesuaikan kembali tergantung kebutuhan. Catatan bahwa direkomendasikan menggunakan Pasir Mil atau jenis Pasir Tanah yang telah diayak halus, dan usahakan cacahan jerami padi tersebut telah dicacah menjadi kecil-kecil seperti menjadi bubuk jerami. Semakin halus bahan tersebut, maka campuran bahan bisa lebih homogen dan bisa menghasilkan produk dengan permukaan lebih halus/ ekspose. Kemudian semua bahan tersebut dicampur rata dengan tambahan air sampai kondisi campuran adonan bisa digenggam dan sudah mampu menggumpal, bersifat adonan kering seperti paving/ batako. Jika adonan sudah dirasa siap, bisa dimasukkan dalam cetakan dan di press dengan alat cetaknya.

Produk material BERATON dikarenakan memiliki dimensi yang besar sehingga diperlukan pengeringan yang agak lama sehingga tidak mudah dilepaskan dari tatakannya. Perlu ditunggu kering dahulu sebelum dilepas dari tatakan dasarnya. “Dalam proses pencampuran bahan material Alhamdulillah kami paham, hanya saja untuk alat cetaknya perlu dioptimalkan lagi dari segi mekanismenya untuk mempercepat produksi”, celetuk salah satu petani.

Dari hasil masukan para kelompok tani tersebut, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari segi alat dan produk, oleh karenanya kami selaku tim pelaksana akan menjadikan produk BERATON ini sebagai prototipe awal untuk bisa dikembangkan lebih lanjut kedepannya untuk menyempurnakan produk dan memodifikasi alat cetaknya agar bisa lebih produktif. Dari kegiatan pengabdian ini, mitra sangat antusias, interaktif dan gigih mau belajar serta mampu kerjasama dengan sangat baik seperti yang diharapkan. Diharapkan ada keberlanjutan program untuk meningkatkan potensi dan promosi Desa Labanasem, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup para petani dan pengrajin material bahan bangunan khususnya prospek pemasaran BERATON di masa depan di dunia konstruksi dan project pembangunan.
Perlu diketahui juga bahwa sebelumnya Poliwangi juga sudah pernah mengaplikasikan jenis Bata Lego Interlock yang disebut dengan “BALOX” di Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat tahun 2021 (https://timesindonesia.co.id/peristiwa-daerah/361780/inovasi-bata-interlock-jadi-cara-poliwangi-tingkatkan-perekonomian-warga-banyuwangi), yang merupakan modifikasi batu bata jenis Bata Berlubang Interlocking yang dibentuk seperti mainan “Lego”. Oleh karenanya, diharapkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi semakin mengenal inovasi material maju jenis Bata Interlock dan mengaplikasikannya dalam konstruksi pembangunan di Kabupaten Banyuwangi dan Banyuwangi bisa menjadi percontohan hunian perumahan-perumahan yang ramah lingkungan, yang bersifat green economy dengan mengaplikasikan Bata Interlock dengan pemanfaatan berbagai jenis limbah hasil pertanian/ perkebunan seperti limbah abu sekam, limbah jerami padi, limbah serabut kelapa, limbah abu ampas tebu, dan limbah fly ash sebagai bahan campuran material bahan bangunan. (*red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *