Kabaroposisi.net | Blora – Sekitar 198 hingga 204 siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Blora, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan pada hari Selasa (25/11). Insiden ini memicu reaksi keras dari masyarakat dan tokoh publik, termasuk aktivis dan penulis Kalis Mardiasih, yang melalui media sosial menuntut pertanggungjawaban penuh dari pengelola program.
Kronologi Keracunan Massal
Gejala keracunan, seperti lemas, mual, diare berulang, dan sakit perut, mulai dirasakan para siswa pada Selasa sore hingga malam hari, tak lama setelah menyantap menu MBG yang terdiri dari nasi, ayam, sayur (wortel dan pakcoy), serta buah melon. Beberapa siswa melaporkan adanya aroma dan tekstur yang tidak biasa pada menu tersebut, seperti sayur yang berlendir atau melon yang terasa aneh.
Koordinator Penanggung Jawab MBG SMPN 1 Blora, Wahyu Yuli, mengonfirmasi bahwa dari total 955 siswa, sedikitnya 198 siswa mengalami keluhan, dan puluhan di antaranya, termasuk 20 siswa yang masih dirawat, harus dilarikan ke Rumah Sakit Dinas Kesehatan Tentara (RS DKT) Blora untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Tuntutan Keras dari Kalis Mardiasih
Kasus ini menjadi viral setelah aktivis dan penulis, Kalis Mardiasih, membagikan pengalamannya di media sosial (termasuk akun Facebook) bahwa salah satu keponakannya, seorang murid di SMPN 1 Blora, turut menjadi korban keracunan.
Dalam unggahannya, Kalis Mardiasih dengan tegas menuntut:
“Saya menuntut tanggung jawab pemilik dapur dan pengelola SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dan berikan hak pemulihan pada anak sesuai UU Kesehatan”
Ia juga melayangkan kritik tajam terhadap penyelenggara program, mempertanyakan komitmen mereka terhadap keselamatan dan kesejahteraan anak-anak:
“Jadi rakyat udah teriak-teriak hentikan MBG dan evaluasi total tata kelola pun nggak akan didengar karena kalian beneran nggak peduli kan pada hidup dan kesejahteraan anak-anak kami?”
Investigasi dan Langkah Selanjutnya
Diketahui, menu MBG untuk SMPN 1 Blora dan juga SMP Kristen Blora (tempat 47 siswa juga dilaporkan mengalami diare) berasal dari dapur SPPG yang sama. Pihak berwenang, termasuk Dinas Kesehatan setempat, telah mengambil sampel makanan dari menu yang dikonsumsi untuk dilakukan uji laboratorium guna memastikan sumber pasti kontaminasi.
Kapolsek Blora Kota, AKP Rustam, menyatakan bahwa untuk sementara, menu MBG di SMPN 1 Blora pada hari Rabu (26/11) ditiadakan. Sementara itu, pihak sekolah dan tenaga kesehatan terus memantau kondisi siswa yang terdampak.
Masyarakat menantikan hasil investigasi resmi dan sanksi tegas bagi pihak yang terbukti lalai dalam menjaga higienitas dan kualitas makanan, demi menjamin kesehatan dan keselamatan ribuan anak sekolah penerima program MBG lainnya.






