Infrastruktur Jembatan Di Desa Cikal Bakal Berdirinya Banyuwangi Ambrol, Warga Minta Segera Ada Perbaikan

Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Baru-baru ini Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memperingati Hari Jadi Banyuwangi (HARJABA) Ke-254. Bicara soal HARJABA tentu masyarakat Banyuwangi terlintas dalam ingatannya pada cerita sejarah terjadinya perang “Puputan Bayu”.

Disebut perang “Puputan Bayu, karena peristiwa bersejarah itu terjadi di Desa Bayu Kecamatan Songgon pada 18 Desember 1771. Yang kemudian peristiwa itu ditetapkan sebagai tanggal dan Hari Jadi-nya Banyuwangi, yang sekira beberapa hari lalu diperingati.

Bacaan Lainnya

Kini Desa Bayu yang jadi cikal bakal berdirinya Banyuwangi itu punya masalah dengan infrastruktur. Diantaranya ruas jalan Kabupaten yang ada di Desa Bayu banyak yang mengalami rusak parah. Yang terkini informasinya jembatan penghubung dua Dusun dan akses utama warga Dusun Sambungrejo dan Bayurejo jalur menuju tempat wisata Rowo Bayu ambrol.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Ir. Yulia Herlina selaku Kepala Desa Bayu Rabu 24 Desember 2025 saat bertemu awak media di salah satu tempat.

“Jembatan ini sudah sekira dua minggu lalu ambrolnya mas, masyarakat kesulitan karena jembatan ini berada di jalan akses utama. Gara-gara itu, warga bergantian tiap hari melakukan penjagaan agar tidak ada Truck melintas karena bahaya. Saya khawatir terjadi ambrol susulan, maka terputuslah akses jalan ini. Oleh karena itu saya mohon dengan hormat kepada Pemkab Dinas terkait untuk segera melakukan perbaikan”, tuturnya.

Saat ditanya apakah soal infrastruktur jalan termasuk jembatan yang mengalami ambrol sudah dikoordinasikan ke Dinas terkait, dijawabnya “sudah”. Dijelaskan juga bahwa, gegara terjadinya ambrol pada jembatan dimaksut, warga kesulitan angkut hasil panen pertaniannya. Jika sebelumnya pembeli dapat langsung masuk ke lokasi menggunakan Truck. Kini hasil panen terpaksa diangkut menggunakan sepeda motor atau jasa ojek secara bertahap.

“Kondisi seperti ini jelas membuat biaya angkut bertambah, dan waktu pendistribusian menjadi lebih lama. Beberapa petani mengeluhkan harus mengeluarkan biaya tambahan agar gabah tetap bisa sampai ke pengepul. Sementara akses alternatif yang ada dinilai tidak memadai untuk kendaraan roda empat yang membawa beban berat”, urainya.

Warga Desa Bayu melalui Kepala Desanya berharap pemerintah Kabupaten/Dinas terkait untuk segera turun tangan. Mengingat kata Lilik, jembatan tersebut merupakan kewenangan Kabupaten dan menjadi akses utama perekonomian masyarakat. Pasalnya kata Lilik, dampak dari ambrolnya jembatan tersebut selain pada sektor pertanian, juga mengganggu mobilitas warga sehari-hari. (r35).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *