Probolinggo|kabaroposisi.net,-Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Probolinggo mengkritik keras Pemerintah Kabupaten Probolinggo terkait penyelenggaraan event lari bertajuk “SAE RUN” yang dijadwalkan pada 8 Februari 2026 mendatang. Kritik ini dilayangkan menyusul masih berlangsungnya proses pemulihan pascabencana di wilayah tersebut. 09/02/2026
Ketua II PC PMII Probolinggo, Achmad Syaifuddin, yang akrab disapa Apod, menyatakan pemerintah dinilai abai terhadap mitigasi bencana dan dianggap lebih mementingkan event olahraga. Ia juga mempertanyakan dasar penyelenggaraan event yang diklaim untuk peningkatan sektor ekonomi dan wisata.
“Ekonominya siapa? Ekonominya masyarakat apa pemerintah,” tegas Apod.
Ia menanggapi pernyataan Sekretaris Daerah (Sekda) Probolinggo, Ugas Irwanto, yang menyebut event berpotensi meningkatkan ekonomi daerah (06/02/2026).
Menurut Apod, event yang menggunakan jalur Tol Prosiwangi via Kraksaan itu tidak berkontribusi nyata bagi sektor wisata. “Itu jalan tol bukan sektor wisata,” ujarnya.
Ia melanjutkan bahwa pemerintah seharusnya mengalihkan seluruh sumber daya dan perhatian untuk percepatan penanganan dampak bencana. “Saat ini yang urgent adalah mitigasi dan rehabilitasi. Banyak fasilitas publik yang rusak berat, seperti sekolah, jembatan yang putus, serta rumah-rumah warga. Ini yang harus jadi prioritas utama, bukan menggelar acara lari berbayar,” paparnya.
Event SAE RUN, seperti dikutip dari situs resminya saerun.id, mewajibkan peserta melakukan registrasi dengan biaya mulai dari Rp 135.000 hingga Rp 250.000. Peserta akan mendapatkan fasilitas berupa jersey, bib number non-chip, goodie bag, medali, dan kesempatan doorprize.
Kritik PC PMII Probolinggo ini menyoroti adanya potensi kesenjangan prioritas di tengah kondisi darurat. Mereka mendesak agar pemerintah mengevaluasi ulang penyelenggaraan event serupa dan benar-benar memfokuskan anggaran serta tenaga untuk pemulihan infrastruktur publik dan bantuan kepada korban terdampak bencana. (Wn)







