KABAROPOSISI.NET|Blora – Di tengah kecenderungan politik yang kerap terasa jauh dari kehidupan desa, Yuyus Waluyo, anggota DPRD Kabupaten Blora dari Partai NasDem, hadir dengan latar yang membumi. Ia bukan hanya memahami teori kebijakan, tetapi juga kenyataan sawah, musim tanam, dan panen yang tak selalu berpihak. Pengalaman sebagai petani itulah yang membentuk cara pandangnya dalam melihat pembangunan daerah.
Dalam kegiatan reses di Desa Gempol, Kecamatan Jati, agenda konstitusional itu dikemas sebagai rembug warga yang terbuka dan setara. Perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga Desa Bangkleyan hadir menyampaikan langsung persoalan tanpa sekat formalitas. Reses tak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi ruang dialog hidup antara rakyat dan wakilnya.
Aspirasi yang muncul menyentuh persoalan mendasar sektor pertanian: ketersediaan pupuk, irigasi yang belum merata, stabilitas harga hasil panen, hingga kebutuhan alat dan mesin pertanian. Warga juga menyoroti rusaknya jalan usaha tani dan infrastruktur desa yang menghambat distribusi hasil panen. Bagi mereka, akses jalan bukan sekadar proyek fisik, tetapi penopang utama denyut ekonomi desa.
Yuyus menegaskan, pertanian adalah fondasi ekonomi keluarga desa, bukan sekadar komoditas. Ia mengkritisi pendekatan pembangunan yang terlalu simbolik dan kurang menyentuh kebutuhan riil petani. Menurutnya, anggaran daerah harus lebih diarahkan pada penguatan sektor produktif agar petani tidak terus berada dalam posisi rentan.
Selain sektor ekonomi, warga juga menyampaikan aspirasi terkait renovasi dan pembangunan sarana ibadah yang menjadi pusat kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat. Desa, tegasnya, tidak boleh diperlakukan sebagai wilayah pinggiran dalam perencanaan pembangunan, baik secara ekonomi maupun sosial.
Menutup dialog, Yuyus memastikan setiap aspirasi akan diperjuangkan melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan di DPRD. Ia mengajak warga terus menjaga komunikasi dan mengawal bersama setiap usulan, karena perjuangan aspirasi adalah kerja kolektif. Reses ini menjadi penegas bahwa politik yang membumi bukan soal retorika, melainkan konsistensi menghadirkan kebijakan nyata bagi petani dan desa.(GaS)






