Di Tengah Efisiensi, Dukungan LIRA Probolinggo atas Pengadaan Mobil Dinas Baru Wali Kota Memantik Sorotan

Probolinggo|kabaroposisi.net,- Pernyataan Wali Kota Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Probolinggo, Louis Hariona, yang menyatakan dukungan terhadap Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin terkait pengadaan kendaraan dinas baru, menuai kritik dari berbagai golongan. 19/03/2026

Sikap Louis dinilai kurang sejalan dengan aspirasi sebagian masyarakat, terutama di tengah sorotan publik terhadap janji peningkatan kesejahteraan guru ngaji yang dinilai belum sepenuhnya terpenuhi. Kebijakan pemerintah kota yang mendatangkan kendaraan dinas baru di saat efisiensi anggaran juga memantik perhatian berbagai pihak, termasuk Ansor Kota Probolinggo dan kalangan guru ngaji.

Ketua Ranting Ansor Wiroborang, Rosy, menyayangkan pernyataan tersebut. Ia menilai kritik terhadap kebijakan pemerintah seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi hukum, tetapi juga dari aspek etika dan moral kepemimpinan.

“Kami juga mengkritik kebijakan pemerintah dalam hal ini Wali Kota Probolinggo dr. Amin yang malah lebih mementingkan kendaraan dinas dari pada kesejahteraan.

Tapi saat kritikan kami disampaikan, justru ada pegiat antikorupsi yang juga membela kebijakan pemerintah,” ujar Rosy, Kamis (19/3).

Rosy menambahkan, pihaknya mengingatkan agar setiap tokoh publik berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di ruang publik, terutama jika menyangkut kepentingan masyarakat luas.

Senada, Aktivis LSM LIRA Kota Probolinggo, Agus Cahyo, menilai bahwa saat ini Kota Probolinggo sedang menghadapi krisis pembangunan sosial jika kebijakan pemerintah lebih mengedepankan kenyamanan pejabat dibanding kesejahteraan masyarakat.

“Wali Kota Probolinggo dr. Amin mendatangkan mobil baru untuk perjalanan dinas sedangkan insentif guru ngaji malah dipangkas. Dampaknya, banyak guru ngaji mengeluh hingga mengkritik kebijakan Wali Kota dr. Amin itu,” ujar Agus.

Ia juga menyoroti adanya pegiat antikorupsi yang menurutnya justru terkesan membela kebijakan pemerintah, alih-alih berpihak kepada kepentingan rakyat.

“Guru ngaji itu bukan beban, melainkan aset bangsa dalam menjaga moral anak-anak bangsa. Hormat kepada guru ngaji, sama halnya menjaga masa depan generasi bangsa,” pungkasnya (Wn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *