KABAR OPOSISI.NET|Blora — Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Blora menjadi momentum reflektif yang tidak hanya menengok realitas hari ini, tetapi juga menautkan kembali akar sejarah panjang perjuangan buruh dunia. Dalam forum yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Blora, berbagai elemen masyarakat dan aktivis mahasiswa berkumpul, menguatkan kembali makna perjuangan yang telah dimulai sejak peristiwa Haymarket Affair di Chicago.
Tiga tahun pasca peristiwa tersebut, tepatnya pada 1889, Second International di Eropa menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional. Sejak itu, gelombang perjuangan buruh meluas ke berbagai negara industri seperti Paris dan Berlin, menjadikan May Day sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sekaligus tuntutan atas hak dasar, termasuk jam kerja yang manusiawi.
Refleksi sejarah tersebut juga disampaikan oleh Exi Agus Wijaya dari Front Blora Selatan. Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki jejak panjang perjuangan buruh yang kerap terpinggirkan dari narasi resmi. Salah satu tokoh penting yang disebut adalah Mas Marco Kartodikromo dari Cepu-Blora, bersama Semaun, yang dikenal sebagai figur perlawanan di masa kolonial.
“Sejarah boleh ditulis oleh penguasa, tapi ingatan buruh tidak pernah tunduk. Dari pena Marco hingga gerakan Semaun, jejak itu tidak hilang—hanya disembunyikan,” tegasnya. Ia menambahkan, setiap 1 Mei, nama-nama tersebut kembali hidup dalam ingatan kolektif, di jalanan dan dalam suara yang menolak untuk diam.
Dalam kesempatan yang sama, Pj Ketua Umum HMI Cabang Blora, Joko Agung Purnomo, menegaskan bahwa peringatan May Day bukan sekadar seremoni tahunan. Ia mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk menjadikan momentum ini sebagai ruang refleksi dan konsolidasi perjuangan sosial yang lebih luas.
“Kami berharap ini menjadi spirit baru, napas baru, dan perjuangan baru. Mahasiswa harus ikut andil mengawal apa yang seharusnya dikawal,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya menjaga integritas, dengan menegaskan bahwa mahasiswa harus menjadi penyambung lidah rakyat, bukan alat kekuasaan. Jum’at 1/05/2026 di taman seni budaya Tirtonadi Blora
Gagasan reflektif juga disampaikan oleh Guntur Andi Surya dari Rumah Juang. Ia menilai May Day sebagai cermin untuk mengukur sejauh mana kerja dihargai dan manusia tidak sekadar diposisikan sebagai alat produksi. Menurutnya, perjuangan buruh hari ini harus melampaui aksi jalanan dan masuk ke dalam sistem melalui regulasi yang berpihak.
“Regulasi adalah medan penting, tempat keadilan dirumuskan dan nasib pekerja ditentukan. Keadilan bukan hadiah, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan, baik lewat suara maupun kebijakan,” ungkapnya.
Kegiatan ini turut dihadiri berbagai elemen, termasuk organisasi Cipayung Plus, PMII, dan tokoh masyarakat. HMI Blora menegaskan komitmennya untuk terus membangun kolaborasi lintas sektor, guna melahirkan embrio gerakan baru yang berpijak pada realitas dan kebutuhan rakyat.
Melalui refleksi May Day 2026 ini, Blora menunjukkan bahwa perjuangan buruh bukan sekadar catatan sejarah, melainkan proses yang terus hidup. Dari Chicago hingga Cepu, dari masa lalu hingga hari ini, suara keadilan tetap bergema—menuntut keberpihakan, menolak ketimpangan, dan menegaskan bahwa hak harus diperjuangkan, bukan sekadar menunggu diberikan. (GaS)






