Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Di Kabupaten Banyuwangi hampir di setiap Desa berdiri klub-klub sepak bola mulai dari kelompok usia dini (SSB), usia produktif, bahkan klub jago kapuk-pun ada. Hal itu membuktikan bahwa di bumi Blambangan olah raga sepak bola sudah memasyarakat.
Oleh karena itu tak heran bila di Banyuwangi kerap kali ada gelaran turnamen sepak bola atau yang lebih dikenal dengan istilah turnamen Antar Kampung (Tarkam). Dari beberapa gelaran event turnamen sepak bola yang ada di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Lapangan Maron Genteng langganan jadi salah satu tempat yang paling ideal bagi para pegiat sepak bola.
Sudah menjadi rahasia umum, setiap event turnamen sepak bola di lapangan Maron Genteng, animo dan antusias masyarakat luar biasa. Dilihat dari letak geografis, lapangan Maron yang terintegrasi dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH), jadi pusat kegiatan publik yang bisa menggerakkan ekonomi masyarakat.
Tak heran bila para maniak bola menganggap lapangan Maron Genteng layak disulap menjadi Stadion alternatif selain Stadion Diponegoro. Alasan mereka, lapangan Maron Genteng berada di tempat yang strategis, yaitu kota terbesar ke dua di Banyuwangi. Informasi keinginan agar lapangan Maron Genteng dibangun jadi Stadion alternatir, awak media tangkap dari obrolan beberapa tokoh legendaris sepak bola di Banyuwangi juga rekan-rekan media.
Obrolan nonformal namun serius itu terjadi di salah satu warung kopi RTH Maron Genteng, saat akan berlangsung laga 8 besar turnamen Piala Ketua PSSI Banyuwangi. Materi obrolan mengalir begitu saja, setelah melihat animo masyarakat yang luar biasa serta dinamika jalannya turnamen. Ada yang mengatakan kerawanan terjadinya gesekan antar suporter karena memang fasilitas yang kurang memadahi.
Samar-samar awak media menangkap apa yang disampaikan salah satu dari mereka kurang lebihnya mengatakan.
“Pengalaman berbicara, di mana-mana ada tarkam yang namanya atmosfer suporter hampir sama saja. Di Maron ini beberapa kali digelar turnamen, tidak semuanya terjadi keributan. Ada juga yang sejak awal penyisihan hingga final sama sekali tidak terjadi keributan. Namun terlepas dari itu semua, hemat saya lapangan Maron ini sudah waktunya dibuat jadi stadion. Selain karena memang auranya yang luar biasa, fasilitas yang memadahi setidaknya bisa meminimalisir terjadinya gesekan antar suporter”, kata salah seorang yang tidak sempat awak media kenali namanya karena keburu nonton jalannya pertandingan.
Hal senada disampaikan yang lainnya, lapangan Maron Genteng meliputi wilayah Banyuwangi Barat dan Selatan yang masyarakatnya penggila bola. Maka tak heran bila setiap ada turnamen sepak bola di Maron Genteng penontonnya membeludak. Para tokoh legendaris sepak bola Banyuwangi yang terlibat dalam obrolan di warkop Maron saat itu. Berharap ada pihak yang berkompeten memulai menyuarakan kepada Pemerintah Daerah. Mengusulkan lapangan Maron untuk dijadikan Stadion alternatif selain Stadion Diponegoro. (r35).






