Faiq Menyayangkan Adanya Oknum Yang Mempersoalkan Normalisasi

Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Musim hujan adalah rahmat dan karunia yang mendatangkan berbagai kebaikan bagi alam, kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Namun bisa berubah menjadi bencana akibat faktor lingkungan dan aktivitas/ulah manusia.

Salah satu contoh bila sungai mengalami pendangkalan, mengalami perubahan fisik, kapasitas tampungnya berkurang. Karena sedimen di dasar sungai menumpuk, dan terjadinya penyempitan alur sungai. Maka dimungkinkan aliran air tidak terkendalikan bahkan bisa memicu terjadinya luapan/banjir.

Berkenan dengan uraian sebelumnya salah satu aktivis pemerhati lingkungan bernama M. Vahid Faiq (Faiq). Mengaku getol mengusulkan kepada Dinas PU Pengairan. Untuk melakukan normalisasi pada beberapa tempat di wilayah Banyuwangi.

“Saya ini selalu mendesak Dinas terkait untuk melakukan normalisasi, agar aliran sungai itu tidak dangkal akibat penumpukan sedimen. Karena sangat berbahaya sekali ketika tiba musim penghujan. Hal ini saya lakukan wujud kepedulian dan demi kemaslahatan juga langkah antisipasi terjadi banjir. Oleh karena itu masalah normalisasi terus saya suarakan ke dinas terkait”, ujarnya 2/11/2026.

Al hasil kata Faiq, akhirnya normalisasi yang diperjuangkannya dianggarkan oleh Dinas PU Pengairan. Dan dalam beberapa waktu terakhir sudah ada yang dalam pengerjaan. Menurut pengakuannya ada beberapa lokasi yang diajukan untuk dinormalisasi. Diantaranya Dam di Desa Gladak, Dam Garit, Dam Cantuk, Dam Gembleng, ada satu lagi di wilayah Kecamatan Songgon.

Sayangnya kata Faiq, pada saat aktifitas pengerjaan normalisasi berjalan. Ada oknum-oknum yang disebutnya mempersoalkan dengan ragam argumentasinya.

“Sayangnya saat kegiatan normalisasi dilaksanakan dan nilai manfaatnya besar. Tapi kenapa kok ada saja oknum yang mempersoalkan. Seolah-olah normalisasi adalah sesuatu yang salah, kurang transparan dan sebagainya. Maksut saya, ayo lah kalau memang ada yang salah secara regulasi, kan ada jalurnya untuk mempersoalkan. Tapi jangan sampai menghambat jalannya normalisasi mengingat urgensinya bagi lingkungan dan masyarakat”, lanjut Faiq sembari menyayangkan.

Diakhir penyampaiannya Faiq mencontohkan kejadian meluapnya air Dam Garit aliran sungai badeng.

“Seperti meluapnya air di Dam Garit ke permukiman warga, ini salah satu contoh karena endapan sedimen pada iduk Dam. Mengalami pendangkalan sehingga tidak mampu menahan, menampung dan mengendalikan debit air. Los tanpa hambatan, ditambah kolom jembatan yang bermasalah. Akhirnya masyarakat yang jadi korban karena permukimannya kebanjiran”, pungkasnya. (r35).

Pos terkait