Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Rowo Bayu adalah salah satu tempat wisata di wilayah Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi tepatnya di Desa Bayu yang dulu ramai pengunjungnya. Hal itu karena Rowo Bayu selain pesona alamnya yang asri dan alami berhiaskan sebuah sendang juga menyimpan cerita sejarah yang dipercaya pernah jadi “Petilasan Prabu Tawangalun”, masa kejayaan Kerajaan Blambangan di masanya.
Satu hal lagi yang tak kalah penting untuk dikenang bagi masyarakat Banyuwangi, di Desa Bayu pernah terjadi perang besar melawan VOC dengan sebutan “Perang Puputan Bayu”, yang kemudian peristiwa itu jadi sejarah cikal bakal lahirnya Banyuwangi. Seiring dengan kemajuan jaman masa lalu sudah berlalu, Rowo Bayu dijadikan sebuah tempat wisata yang mampu menyedot perhatian dan pengunjung. Namun entah kenapa tempat wisata Rowo Bayu cukup lama sepi pengunjung bahkan nyaris hilang tertelan bumi namanya.
Mungkin bagian dari keinginan agar Rowo Bayu bisa ramai pengunjung lagi, dan mengabadikan cerita sejarah yang ada di dalamnya. Masyarakat Desa Bayu khususnya Pengelola Rowo Bayu dinahkodai oleh Hendik Keriwul, reka-reka kegiatan “Opening Bazar Rakyat” Sabtu 3/6/2023. Hadir dalam acara tersebut dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Iswanto (Fungsional Analis Ahli Muda Koordinator Pengembangan dan Pengelolaan Destinasi Wisata).
Kepada awak media Iswanto dalan konfirmasinya menjelaskan,
“Rowo Bayu adalah destinasi
yang tertua di Banyuwangi, macam destinasinya 1. Dari sisi Alam yang mana Rowo yang tidak pernah kering sepanjang masa menghidupi masyarakat utama para petani, 2. Dari sisi Sejarah, situs pelinggihan Prabu Tawangalun, dan tempat cikal bakal lahirnya Banyuwangi dengan perang Puputan Bayu pada tahun 1771. Maka dalam pengelolaannya wisatawan ada 2 pilihan yaitu menuju ke alam atau sejarah. Sehingga perlu ada batas area yaitu kalau dikaitkan dengan alamnya dibuka mulai jam 08.00 s/d jam 16.00 Wib, kalau dikaitkan dengan sejarah 24 jam, karena kabanyakan wisatawan ada yang suka lakukan ritual. Makanya keamanan baik wisatawan dan masyarakat tetap terjaga”, jelasnya.
Berikut kata Iswanto, karena lokasi tempat wisata ada diwilayahnya Perhutani, maka pengelolaannya harus sinergis antara Pokdarwis, Pemerintah Desa Bayu dengan KPH Banyuwangi Barat.
Sementara menurut Hendik Keriwul mewakili rekan-rekan Pengelola Rowo Bayu. Bahwa masyarakat Desa Bayu sangat menginginkan Rowo Bayu jadi tempat wisata ramai pengunjung seperti beberapa tahun sebelumnya.
“Intinya masyarakat Bayu ingin sekali Rowo Bayu kembali ramai pengunjung seperti dulu-dulu. Karena dengan ramainya wisatawan datang ke Rowo Bayu berdampak pada pergerakan ekonomi masyarakat. Saya meski bukan warga asli Bayu karena bicara soal Kecamatan Songgon, dimintai bantuan kordinasi dan bergagas memajukan wisata Rowo Bayu tanpa pikir panjang saya jalani. Untuk kegiatan pada opening Bazar ini semuanya keringat masyarakat Bayu, mulai dari penyediaan sound sistem, kesenian daerah dan UMKM yang terlibat murni dari masyarakat Bayu. Tentu kami perlu support dan dukungan dari Pemerintah dan perlu sinergi dan kolaborasi dengan pihak Perhutani untuk bisa membuat Rowo Bayu ini kembali ramai”, ungkap Hendik Keriwul.
Salah satu perwakilan Pengelola Rowo Bayu, mengaku sangat berterima kasih kepada Hendik Keriwul yang telah tanpa ada itung-itungan, mau dan bersedia sumbangkan tenaga dan pikiran demi menghidupkan kembali destinasi wisata Rowo Bayu. Harapannya besok di hari ke dua Minggu akan lebih banyak pengunjung yang datang ke Rowo Bayu. (r35).






