Tim Dosen Poliwangi Melalui Program Pengabdian PKM, Bantu Upaya Penanganan Banjir di Macan Putih

Kabaroposisi.net | BANYUWANGI – Desa Macan Putih sering dilanda banjir terutama ketika hujan dengan intensitas yang cukup tinggi, mengakibatkan volume air sungai di Dusun Banyuputih RT02/RW03, Desa Macan Putih meluap ke pemukiman.

Berdasarkan beberapa data yang diperoleh dari pihak Kecamatan Kabat yang dihimpun oleh Tim Dosen Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), kejadian banjir yang terjadi di Desa Macan Putih adalah yang terparah di wilayah Kecamatan Kabat. Tercatat sampai 30 rumah tergenang air dengan ketinggian 20 – 50 cm dan terjadi juga pagar rumah yang roboh dan jalan desa yang tergenang hingga 1 km setinggi 40 – 100 cm.

Meluapnya air ke pemukiman warga ini juga diakibatkan dari saluran drainase yang belum optimal. Adanya sedimentasi pada saluran drainase di sekitar pemukiman warga yang terdampak banjir. Sedimentasi terakumulasi dapat mengurangi kapasitas tampungan saluran yang mengakibatkan terjadinya genangan air dan banjir.

Selain itu drainase yang ada tidak difungsikan dengan baik, terbukti terdapat berbagai material yang menghambat saluran drainase termasuk material bangunan seperti batu bata, pasir, batu serta tumbuhan liar pada saluran drainase yang tentunya menghambat aliran air.

Oleh karena permasalahan tersebut, maka melalui program pengabdian masyarakat ini, Tim PKM Dosen Poliwangi melakukan optimalisasi saluran drainase pada wilayah wilayah rawan banjir sehingga dapat menampung air hujan dengan baik, serta implementasi resapan biopori dapat membuat air lebih cepat terserap kedalam tanah sehingga mencegah terjadinya genangan dan banjir.

Mirisnya kondisi saluran drainase Desa Macan Putih dipenuhi dengan sampah, budaya membuang sampah di salauran air nampaknya masih menjadi PR yang perlu ditangani, mungkin dengan pengelolaan sampah yang baik di Desa tersebut, termasuk penyediaan Tempat Pembuangan Sampah Akhir.

Pada hari pertama Dosen dan Mahasiswa Poliwangi melaksanakan sosialisasi kepada warga terkait pentingnya memelihara saluran air serta materi terkait implementasi biopori. Masyarakat diberikan edukasi terkait bagaimana cara menjaga saluran air agar tetap lancar dan mampu menampung air ketika hujan dengan cara melakukan normalisasi drainase secara berkala. Dengan mengerahkan Masyarakat Desa Macan Putih, tim pengabdian malakukan normalisasi drainase bersama sama dengan melakukan pembersihan lumpur dan sampah serta material yang mengahambat saluran.

Pada hari kedua warga diajak bersama-sama untuk mengimplementasikan biopori di pekarangan rumahnya dan beberapa titik-titik rawan banjir, dengan berbekal edukasi yang telah disampaikan warga turut serta mengimplementasikan pipa biopori yang sudah tersedia. Lokasi penempatan biopori harus diatur sedemikian rupa dan disesuaikan dengan lahan yang ada. Karena berfungsi sebagai peresap air maka penempatan biopori harus memilih lokasi dimana air cenderung akan tergenang atau berkumpul.

Cara pembuatan biopori cukup mudah yaitu : 1). Membuat lubang silindris di tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman 30- 100 cm serta jarak antar lubang 50-100 cm serta ditutup dengan tutup pipa biopori yang juga diberi lubang. 2). Lubang diisi dengan sampah organik seperti daun, sampah dapur, ranting pohon, sampah makanan dapur non kimia, dan lain- lain. Sampah dalam lubang akan menyusut sehingga perlu diisi kembali dan di akhir musim kemarau dapat dikuras sebagai pupuk kompos alami. 3). Jumlah lubang biopori dihitung berdasarkan besar kecil hujan, laju resapan air dan wilayah yang tidak meresap air dengan rumus = intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap air (meter persegí)/laju resapan air perlubang (liter/jam).

Sementara alat-alat dan bahan yang digunakan diantaranya: a. Bor tanah, b. Pipa PVC dan penutup yang sudah dilubangi bagian sisi-sisinya, c. Sampah organic, dan, d. Air. (r35).

Suber info : Ketua Jurusan Teknik Sipil, Wahyu Naris Wari, S.T., M.T.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *