Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Entah apa yang mengispirasi masyarakat Desa Benelan Kidul Kecamatan Singojuruh khususnya emak-emak. Senin 5/5/2025 ramai-ramai mendatangi kantor Desanya dengan membawa kertas manila. Berisi tulisan kalimat-kalimat yang mengatakan “STOP PEMBAYARAN BANK KELILING, BANK PLECIT, BANK SETAN YANG MERESAHKAN”. Ada lagi tulisan kalimat “GAK KUAT BAYAR CICILAN BANK KELILING, RINGANKAN BEBAN EMAK-EMAK”.
Dari kalimat-kalimat yang tertuang pada lembar kertas manila yang dibawanya, awak media mengira bahwa puluhan emak-emak sedang ada masalah dengan lembaga jasa keuangan swasta. Yang menurut versi emak-emak disebutnya dengan nama Bank Keliling, Bank Plecit, dan Bank Setan itu. Dasar emak-emak suara teriakannya lantang melengking meski tanpa menggunakan pengeras suara. Karena suara gaduh dan saling bertautan satu sama lainnya, awak media sulit menangkap kejelasan apa yang disampaikannya.
Untuk itu secara terpisah awak media memilih mewawancarai Kepala Desa Benelan Kidul Habib Ali Mustafa di ruangannya. Kepala Desa yang akrab dengan panggilan nama Habib itu, kepada awak media menjelaskan. Bahwa kedatangan emak-emak ke kantor Desa dalam rangka aksi damai menyampaikan aspirasinya. Meminta agar Pemerintah Desa mem-back up keinginannya yang tidak mau bayar hutangnya kepada lembaga jasa keuangan swasta yang masuk ke Desa Benelan Kidul.
Akan tetapi Kades Habib mengaku berhati-hati sekali merespon apa yang disuarakan emak-emak tersebut. Sehingga menanggapi apa yang jadi keinginan masyarakatnya, Kades Habib memilih untuk mengedukasi saja.
“Dalam hal ini kami selaku Pemerintahan Desa mengedukasi kepada emak-emak bahwa yang namanya hutang wajib dibayar. Sempat saya tanyakan kenapa tidak mau bayar, dijawabnya untuk makan susah apalagi ubtuk bayar hutang. Akhirnya saya memberikan saran kalau memang masih susah untuk yang dibuat makan, ya jangan dipaksakan untuk bayar. Apalagi mau bayar karena takut, karena gak tahan ditagih terus menerus, kemudian cari hutangan untuk bayar. Ya gak selesai-selesai hutangnya, itu namanya tutup lobang gali lobang mas”, jelasnya.
Berikut ketika ditanya langkah apa yang akan diambil sebagai solusi sementara meminimalisir terjadinya masalah antara masyarakatnya denga lembaga jasa keuangan swasta yang masuk ke Desanya selama ini.
“Demi kebaikan bersama, mohon maaf kepada para lembaga jasa keuangan swasta yang ada urusan hutang piutang dengan warga kami. Dan ternyata banyak warga kami yang punya tanggung jawab setoran macet, kami mohon agar tidak lebih banyak lagi uang yang mengendap atau macet. Hentikan dulu sebar uang tawarkan pinjaman uang kepada warga kami di Desa Benelan Kidul, dan untuk itu akan saya pasang benner-benner himbauan. Intinya kami tidak mau warga kami semakin resah, juga tidak ingin jasa keuangan mengalami rugi lebih banyak lagi karena macet. Biarkan dulu masyarakat kami tenang dan secara pelahan bisa membayar hutangnya”, sambungnya.
Dari apa yang disampaikan, sepertinya Kades Benelan Kidul Habib Ali Mustofa lebih memilih ambil jalan tengahnya. Satu sisi tidak ingin masyarakatnya semakin resah karena persoalan hutang piutang. Sisi lain juga tidak ingin pihak jasa keuangan mengalami rugi lebih banyak lagi karena macet. (r35).






