KABAROPOSISI.NET|Semarang – Gerakan masyarakat sipil Jateng Guyub akan menggelar aksi bersama selama tiga hari, pada 22–24 Juli 2026, di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Aksi tersebut akan diikuti delegasi dari 28 kabupaten yang membawa beragam persoalan daerah untuk disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Gerakan ini dibentuk sebagai wadah konsolidasi berbagai elemen masyarakat, mulai dari petani, nelayan, buruh, pegiat lingkungan, masyarakat adat, organisasi kepemudaan, komunitas desa, hingga kelompok masyarakat yang selama ini memperjuangkan hak-hak warga. Jateng Guyub menilai persoalan yang muncul di berbagai daerah memiliki keterkaitan, seperti konflik agraria, kerusakan lingkungan, ketimpangan pembangunan, lemahnya perlindungan terhadap masyarakat, serta belum optimalnya pemenuhan hak-hak dasar warga negara.
Koordinator Aksi Jateng Guyub, Joko Prianto, mengatakan gerakan tersebut lahir sebagai upaya memperkuat solidaritas antardaerah agar perjuangan masyarakat tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
“Persoalan yang dihadapi petani, nelayan, buruh, masyarakat adat, maupun warga perkotaan sesungguhnya saling berkaitan. Bentuknya mungkin berbeda, tetapi akar persoalannya sama, yaitu bagaimana rakyat mempertahankan ruang hidupnya, memperoleh keadilan, dan mendapatkan kesejahteraan. Karena itu kami membangun Jateng Guyub sebagai ruang perjuangan bersama, bukan sekadar forum aksi,” ujarnya.
Selama tiga hari pelaksanaan aksi, setiap delegasi daerah dijadwalkan memaparkan persoalan yang mereka hadapi. Berbagai isu yang akan disampaikan antara lain konflik agraria, aktivitas pertambangan, kerusakan infrastruktur jalan, kriminalisasi warga, persoalan pertanian, ketenagakerjaan, lingkungan hidup, pelayanan publik, hingga kebijakan yang dinilai belum berpihak kepada masyarakat.
Sementara itu, Koordinator Blora, Exy Wijaya, menilai kehadiran Jateng Guyub merupakan jawaban atas kebutuhan masyarakat Jawa Tengah akan ruang perjuangan bersama yang mampu menyatukan berbagai gerakan rakyat.
Menurutnya, meski persoalan yang dihadapi setiap daerah berbeda, seluruhnya memiliki benang merah yang sama, yakni ancaman terhadap ruang hidup, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, kriminalisasi terhadap warga yang memperjuangkan haknya, serta kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat.
“Jateng Guyub hadir sebagai rumah bersama. Rumah bagi petani yang kehilangan lahannya, bagi warga yang mempertahankan lingkungan hidupnya, bagi buruh yang memperjuangkan haknya, bagi nelayan yang mempertahankan wilayah tangkapnya, dan bagi seluruh masyarakat yang menginginkan keadilan. Kami ingin membangun solidaritas lintas daerah, karena kami percaya tidak ada satu pun masyarakat di Jawa Tengah yang seharusnya berjuang sendirian,” kata Exy.
Ia menegaskan aksi tersebut akan berlangsung secara damai, tertib, dan konstitusional. Menurutnya, tujuan utama kegiatan bukan menciptakan konflik, melainkan membuka ruang dialog antara masyarakat dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
“Kami datang membawa harapan, bukan kebencian. Kami datang membawa suara rakyat, bukan kepentingan kelompok tertentu. Kami ingin pemerintah mendengar langsung apa yang menjadi persoalan masyarakat di berbagai daerah dan menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat,” tegasnya.
Selain penyampaian aspirasi, rangkaian kegiatan juga akan diisi dengan dialog publik, konsolidasi antardaerah, pendidikan rakyat, serta penguatan jaringan solidaritas masyarakat sipil di Jawa Tengah.
Melalui aksi ini, Jateng Guyub berharap tercipta komunikasi yang lebih terbuka antara masyarakat dan pemerintah sehingga berbagai persoalan daerah dapat diselesaikan melalui dialog yang konstruktif, penghormatan terhadap hak-hak warga negara, serta lahirnya kebijakan yang lebih berkeadilan.(GaS)
