Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur dan Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi. Selasq 3 November 2026, ada agenda kegiatan di kantor Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh.
Agenda kegiatan sebagaimana dimaksud adalah dalam rangka “Pembentukan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana”. Mungkin karena Desa Alasmalang bisa dibilang langganan mengalami bencana. BPBD memandang perlu dibentuknya Destana (Desa Tangguh Bencana).
Dari BPBD Provinsi Jatim hadir Bige Agus Wahjuono, SE bersama tim, BPBD Kabupaten Banyuwangi Djadmiko Tri Wurjanto, S.T., M.T bersama tim. Pemangku wilayah setempat Camat Singojuruh Iwan Yos Sugiharto, S. Sos., M. Si, Danramil 0825/13 Singojuruh Kapten Kav Andoko, Kapolsek diwakili oleh Aiptu Nur Choiri, SH (Kasium Polsek Singojuruh).
Seremoni pembukaan Pembentukan DESTANA diawali dengan menanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Tangguh hadapi bencana. Diteruskan sambutan penghormatan Kepala Desa Alasmalang H. Abdul Munir.
Dalam sambutannya H. Abdul Munir mengucapkan selamat datang dan ucapan terima kasih. Kepada BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten yang disebutnya telah perhatian terhadap masyarakat Desa Alasmalang. Sekilas H. Abdul Munir ceritakan peristiwa banjir bandang yang terjadi pada tahun 2018. Dan kondisi masyarakat Desa Alasmalang pasca bencana
“Kejadian tahun 2018 yang sempat menjadi perhatian nasional, menyisakan trauma panjang pada masyarakat kami. Setiap turun hujan masyarakat resah khawatir peristiwa tahun 2018 terulang. Hal itu terjadi karena kontruksi Jembatan Garit yang jadi penyebab utamanya. Oleh karena itu atas nama masyarakat, mohon kepada bapak-bapak di BPBD Provinsi juga Kabupaten. Untuk mendorong Pemerintah melakukan renovasi total kontruksi Jembatan Garit di DAS Badeng itu”, ungkap dan harapnya.
H. Abdul Munir juga sampaikan bahwa dalam rangka penanggulangan bencana sudah terbentuk KSB (Kampung Siaga Bencana). Dengan dibentuk DESTANA maka kata H. Abdul Munir akan semakin lebih maksimal dalam hal kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Sementara Bige Agus Wahjuono, SE dari BPBD Provinsi Jatim pada kesempatan tersebut. Memaparkan tunjukan dibentuknya Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (DESTANA). Sebelumnya Bige Agus Wahjuono menggaris bawahi atau sepakat dengan penyampaian Kades H. Abdul Munir. Bahwa salah satu penyebab utama terjadinya bencana banjir bandang di Desa Alasmalang karena kontruksi Jembatan yang menghambat laju aliran sungai.
Lanjut ia menjelaskan ada 4 (empat) tujuan kenapa dibentuk DESTANA (Desa Tangguh Bencana ).
“Tujuan dibentuknya DESTANA yang pertama biar kita lebih mengetahui potensi terjadinya bencana di sekitar kita. Dengan kita mengetahui adanya potensi terjadinya bencana maka tujuan ke dua dibentuknya DESTANA adalah yaitu kita bisa siaga artinya siap dan tanggap terhadap kejadian bencana. Harapannya bagaimana kita menyiapkan jalur logistik, gudang logistik, jalur evakuasi dan titik kumpul”, paparnya disertai penjelasan.
Berikut Bige Agus Wahjuono meneruskan paparan tujuan dibentuknya DESTANA yang ke tiga dan ke empat.
“Kemudian tujuan yang ke tiga dibentuknya DESTANA harapannya kita bisa cepat pulih pasca bencana yaitu melakukan penanggulangan bencana. Dan tujuan yang ke empat tak kalah pentingnya yaitu terbentuknya Forum Pengurangan Resiko Bencana”, sambungnya.
Sebelum mengakhiri sambutannya Bige Agus Wahjuono menyampaikan salam titipan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Yaitu berupa bibit tanaman buah dengan pesan untuk ditanam di kantor Desa Alasmalang.
Acara seremoni ditutup dengan doa, dan setelahnya dilakukan penyerahan sertifikat kepada Kepala Desa Alasmalang. Kemudian dilakukan penanaman pohon bersama-sama secara simbolis di halaman kantor Desa Alasmalang. Sementara materi terkait kebencanaan disampaikan oleh fasilitator dari BPBD Kabupaten Banyuwangi Djadmiko Tri Wurjanto, S.T., M.T. Dan Puji fasilitator dari BPBD Provinsi Jawa Timur. (r35).






