Ingin Tahu Asal Usul Tradisi “KEBOAN” Mahasiswa Universitas Pancasila Jakarta Datangi Desa Aliyan

Kabaroposisi.net.(BANYUWANGI) – Senin 20 januari 2020. Hanya karena ingin tahu asal usul tradisi adat budaya “Keboan” Desa Aliyan sekelompok Mahasiswa dari Universitas Pancasila Jakarta datang ke Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi Banyuwangi, sekaligus kedatanganya ingin bertemu langsung dengan Kepala Desa Aliyan Anton Sujarwo, SE.

Bertempat di Pendopo Kepala Desa setempat lansung berdialog serta menceritakan terkait asal usul “Keboan” yang ada di Desa Aliyan terhadap Mahasiswa dari Universitas Pacasila Jakarta.

Puluhan Para Mahasiswa Universitas Pancasila, di Pendopo Desa Aliyan

Anton menceritakan bahwasanya pada zaman dahulu ada sebuah Desa/dukuh yang bernama KARANG MUKTI ,Karang yang berati TANAH sedangkan Mukti yang artinya SUBUR. Orang yang pertama kali mendiami Dukuh/Desa karang mukti yaitu: Ki Buyut dan Nyi Buyut Wongso Kenongo.

Beliau mempunyai dua orang putra yang bernama: RADEN PRINGGO dan RADEN PEKIK. Dukuh karang mukti dahulu merupakan tanah yang subur dengan penghasilan pertanian yang sangat melimpah dan pada suatu ketika Dukuh karang mukti mengalami musibah dan bencana di mana – mana terutama pada tanaman petani warga di serang hama,wereng,tikus,dan pageblug selaku sesepuh di Dukuh karang mukti Ki Buyut Wongso Kenongo sangatlah prihatin melihat keadaan warganya,” ceritanya.

Di suatu ketika Ki Buyut Wongso Kenongo mendapatkat sebuah petunjuk untuk menyuruh kedua anaknya untuk melakukan tirakat dan bertapa di hutan sekitar Dukuh Karang Mukti Raden PRINGGO di tugaskan bertapa di hutan arah barat Dukuh Karang Mukti yang sekarang di kenal dengan nama Dusun SUKODONO sedangkan Raden PEKIK di tugaskan di hutan arah selatan Dukuh Karang Mukti yang sekarang di kenal dengan nama Gumuk SUKO PEKIK,” imbuhnya.

Hari berganti hari minggu berganti minggu Raden PRINGGO dan Raden PEKIK melakukan pertapaan dan sampai akhirnya Sang Maha Pencipta mengabulkan permohonanya. Dan pada saat itulah di luar alam kesadaran secara bersamaan Raden PRINGGO dan Raden PEKIK keluar dari pertapaanya yang berbeda tetapi mengalami kejadian yang sama Raden PRINGGO dan Raden PEKIK berlari ke arah persawahan yang penuh lumpur dan berguling guling layaknya seekor kerbau.

Akhirnya upacara di awali dengan bersih Dukuh yang sekarang di kenal dengan kata bersih Desa kemudian mendirikan Lawang Kori, Lawang artinya pintu sedangkan Kori artinya bambu yang sekarang di sebut Gapuro yang harus di dirikan di setiap pintu masuk dan keluar di Dukuh/Desa.

Adapun hiasan lawang Kori atau Gapuro tersebut yaitu: hasil dari pertanian seperti: padi, jagung, tebu, buah buahan, kelapa, dan hasil dari pertanian lainya yang melambangkan sebagai simbul kesuburan tanah pertanian di Desa serta bentuk rasa syukur masyarakat akan rizki yang di berikan oleh Tuhan yang Maha Esa.

Selanjutnya kegiatan tersebut di jadikan tradisi oleh masyarakat Desa Aliyan hingga sekarang secara turun temurun untuk mengadakan ritual atau selamatan di makam Buyut Wongso Kenongo, yang di kenal dengan tradisi adat masyarakat Desa Aliyan yang di sebut “KEBOAN”, yang dilaksanakan setiap bulan Suro menurut penanggalan jawa,” pungkasnya.

Konfirmasi terpisah Ahmad salah satu dari Mahasiswa Universitas Pancasila,  ketika di tanya oleh awak media beliau mengatakan bahwa tradisi “Keboan” Desa Aliyan memang benar mas ada asal asulnya dan saya sangat terkesan dengan apa yang sudah di ceritakan oleh Pak Kades. Sebenarnya tradisi ini bisa di buat event untuk bisa menarik perhatian tourist lokal maupun manca Negara, memang di Banyuwangi ini masih banyak tradisi yang berbau mistis,” ungkapnya (ktb).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *