KABAROPOSISI.NET|Jombang – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang bergerak cepat menangani luapan air di Sungai Afvoer dengan melakukan pembersihan sampah secara besar-besaran di sejumlah titik krusial. Langkah ini ditempuh setelah banjir merendam lebih dari 500 hektare lahan pertanian milik warga.
Genangan air yang meluas sebelumnya memicu kekhawatiran petani terhadap potensi gagal panen. Tanaman padi yang masih dalam masa pertumbuhan terancam rusak akibat terendam cukup lama.
Kepala Dinas PUPR Jombang Imam Bustomi melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Sultoni mengatakan, penanganan dilakukan secara intensif dengan mengerahkan alat berat di lapangan. Ekskavator digunakan untuk mengangkat material penyumbat aliran air, terutama di area sempit seperti kolong jembatan. “Beberapa titik sumbatan sudah berhasil kami bersihkan dengan bantuan ekskavator,” ujarnya.
Berdasarkan hasil identifikasi tim teknis, kondisi Afvoer Watudakon sebelumnya berada dalam status kritis. Debit air yang tinggi tidak mampu ditampung saluran, sehingga meluap ke wilayah sekitar.
Luapan air tersebut bahkan berdampak hingga wilayah Kabupaten Mojokerto. Di daerah hilir, genangan sempat mengancam areal persawahan dan mendekati permukiman warga.
Sultoni menjelaskan, fokus penanganan saat ini dipusatkan pada dua titik utama, yakni di Desa Carangrejo dan Desa Pojokerjo, Kecamatan Kesamben. Kedua lokasi tersebut menjadi titik paling parah akibat tersumbatnya aliran sungai.
Di lapangan, petugas menemukan tumpukan sampah yang didominasi ranting bambu dan limbah domestik. Material tersebut tersangkut di pilar jembatan dan membentuk bendungan alami yang menghambat aliran air.
Meski demikian, proses pembersihan tidak sepenuhnya berjalan mulus. Petugas masih menghadapi kendala teknis, terutama keterbatasan akses alat berat untuk menjangkau titik-titik tertentu. “Kami harus berhati-hati. Tidak semua lokasi bisa dijangkau alat berat karena berisiko merusak tanggul,” katanya.
” Dengan pembersihan yang dilakukan secara bertahap, kondisi di lapangan mulai membaik. Aliran air berangsur lancar dan genangan di sejumlah desa seperti Carangrejo, Kedungbetik, hingga Podoroto dilaporkan telah surut, ” tambahnya.
Sebagai langkah jangka panjang, Dinas PUPR Jombang juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas untuk melakukan normalisasi sungai. Upaya tersebut diharapkan menjadi solusi permanen agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.(tyas)






