Hari Tani Nasional, Petani Pracimantoro Ingatkan Pentingnya Menjaga Ruang Hidup dan Masa Depan Pertanian

KABAROPOSISI.NET|Wonogiri — Hari Tani Nasional tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan petani, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang masa depan mereka di tengah perubahan zaman. Bagi petani Pracimantoro, Wonogiri, peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa tanah bukan sekadar tempat bercocok tanam, melainkan ruang hidup yang menyimpan sejarah, budaya, sumber pangan, dan harapan generasi berikutnya.

Melalui kegiatan Genduren Gunungsewu, masyarakat Pracimantoro berkumpul bukan hanya untuk menikmati kebudayaan lokal, tetapi juga merawat kembali rasa syukur, kebersamaan, serta hubungan manusia dengan alam. Tradisi genduren dan pertunjukan seni Wayang Beber menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenali kembali asal-usul, memperkuat ikatan sosial, sekaligus menegaskan bahwa budaya, tanah, dan kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan.

Bacaan Lainnya

Namun di balik suasana kebersamaan tersebut, tersimpan keresahan yang dirasakan petani. Mereka mempertanyakan keberlanjutan ruang hidup yang selama ini menjadi tempat menanam, bekerja, membesarkan keluarga, dan menggantungkan masa depan. Apalagi bagi petani kawasan karst Pracimantoro, bertahan dalam dunia pertanian bukan perkara mudah karena keterbatasan air, kondisi tanah, perubahan musim, serta ketidakpastian harga hasil panen.

Menurut Suryanto Perment dari Paguyuban Tali Jiwa Pracimantoro, tanah pertanian memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai jual. Tanah menjadi sumber pangan, ruang ekonomi keluarga, tempat berkembangnya pengetahuan pertanian, serta warisan yang ingin diteruskan kepada anak cucu. Ketika lahan pertanian berubah fungsi, yang hilang bukan hanya sebidang tanah, tetapi juga kesempatan keluarga petani untuk mempertahankan kehidupan dari tanahnya sendiri.

Kekhawatiran tersebut semakin kuat ketika pembangunan dan perubahan tata ruang berhadapan dengan keberadaan lahan produktif masyarakat. Petani tidak menolak kemajuan, namun berharap pembangunan tetap menempatkan keberlanjutan kehidupan masyarakat sebagai pertimbangan utama. Sebab kemajuan seharusnya memperkuat kehidupan warga, bukan membuat masyarakat kehilangan fondasi yang selama ini menopang kehidupannya.

Persoalan ruang hidup yang dirasakan petani Pracimantoro juga menjadi bagian dari keresahan masyarakat di berbagai wilayah Jawa Tengah. Beragam persoalan seperti pertanian, lingkungan, sumber daya alam, hingga tata ruang mempertemukan masyarakat dalam wadah Jateng Guyub, sebuah gerakan lintas wilayah yang mendorong agar suara masyarakat menjadi bagian dari proses kebijakan pembangunan. Momentum Hari Tani Nasional 2026 pada 22–24 September mendatang menjadi salah satu ruang penyampaian aspirasi tersebut.

Bagi petani Pracimantoro, keterlibatan dalam gerakan masyarakat bukan sekadar bentuk penolakan terhadap pembangunan, tetapi upaya menjaga agar pembangunan tetap memiliki keberpihakan terhadap manusia yang hidup di dalamnya. Dari genduren, seni, dan kebersamaan masyarakat, muncul pesan bahwa menjaga tanah berarti menjaga masa depan. Hari Tani Nasional menjadi pengingat bahwa selama petani masih memiliki tanah, mereka masih memiliki pilihan untuk menanam, berproduksi, dan menentukan masa depan keluarganya sendiri. (GaS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *